Jalan-Jalan

Pameran Budaya dan Seni Koentjaraningrat, Peringati 100 Tahun Bapak Antropologi Indonesia

bismillahirrahmanirrahim,

Apa yang terjadi kalau gak ada ilmu antropologi? Salah satu yang mungkin terjadi adalah salah paham tentang budaya. Chaos banget kan ya kalau sampai itu terjadi? Iya, salah besar jika ilmu yang mempelajari segala macam seluk beluk, unsur-unsur, kebudayaan yang dihasilkan dalam kehidupan manusia ini dianggap kurang menarik dan dianggap membosankan. Karena sebenarnya antropologi ini justru merupakan ilmu yang sangat menarik dan jauh dari kesan membosankan. Bayangin aja, lewat ilmu ini justru kita belajar memahami hubungan antar manusia.

Tapi terus terang, saat awal-awal belajar antropologi pun aku sempat berpikir malas untuk masuk kelas ini. Merasa tidak akan menarik, tapi siapa yang menyangka kalau pada akhirnya bahasan skripsi aku justru berhubungan erat dengan budaya dan perilaku manusia. 

Gak pa-pa kalau dulu sempat berpikir antropologi adalah pelajaran yang membosankan. Yang penting sekarang aku sudah berubah dan menghargai betapa pentingnya ilmu yang satu ini. Termasuk tidak lupa untuk menghormati jasa-jasa Bapak Antropologi Indonesia, Prof.Dr. Koentjaraningrat.

Kenalan dengan Sosok Koentjaraningrat Yuk!

Mungkin ada belum mengenal Prof.Dr. Koentjaraningrat? Aku ajak untuk mengenal sosok beliau lebih lanjut ya. 

Prof.Dr. Koentjaraningrat yang akrab disapa sebagai Pak Koen merupakan Antropolog Indonesia terpenting, lahir di Yogyakarta, 15 Juni 1923 dan meninggal di Jakarta, 23 Maret 1999. Beliau terlahir sebagai keturunan bangsawan, karenanya beliau diperbolehkan mengenyam pendidikan dasar di Europeesche Lagere School dan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), yang merupakan sekolah yang hanya diperuntukan bagi anak-anak Belanda. 

Saat masih muda, Pak Koen sering menghabiskan waktunya bermain di lingkungan Keraton, disinilah beliau  mendapatkan pengaruh dengan kentalnya Seni dan Kebudayaan Jawa yang kelak memberikan  pembekalan kepribadiannya menjadi seorang Antropolog. Di waktu senggangnya saat SMA, Pak Koen yang terbiasa disiplin dan mandiri sejak kecil diisi dengan melukis dan mempelajari tari Jawa di Tejakusuman. Selain itu bersama sahabatnya, Koesnadi (fotografer) dan Rosihan Anwar (tokoh Pers), Pak Koen rajin menyambangi rumah seorang dokter keturunan Tionghoa untuk membaca, diantaranya disertasi-disertasi tentang antropologi milik para pakar kenamaan.

Tak heran bila selain sebagai ilmuwan, Pak Koen juga memiliki keterampilan yang mengesankan dalam membuat sketsa. Lukisan-lukisan Koentjaraningrat yang manis, spontan, serta menyiarkan tema-tema antropologis, acap dipamerkan dalam pagelaran penting di beberapa negara, Ia cermat melukis figur yang bergerak, lengkap dengan karakterisasi dan suasana setting-nya. Prestasi artistiknya, ditunjang reputasi manusianya, menyebabkan ia secara aklamasi diangkat menjadi salah seorang pimpinan Persatuan Pelukis Cat Air Indonesia.

Pak Koen meraih gelar sarjana dari Fakultas Sastra UI (1952); gelar MA dari Universitas Yale, Amerika Serikat (1956) dengan tesis: A Preliminary Description of the Javanese Kinship System; gelar doktor dengan predikat cum laude dari Universitas Indonesia (1958).  Sebagai guru besar, selain berupaya mengembangkan jurusan antropologi di universitas negeri lain, juga menekankan agar muridnya memilih subdisiplin antropologi. Ia juga menginginkan partisipasi antropologi yang lebih nyata dalam kehidupan dan pembangunan negara.

Beliau juga merupakan sosok utama yang berjasa dalam mendirikan dasar-dasar ilmu Antropologi di Indonesia, dari sinilah beliau mendapatkan gelar kehormatan sebagai Bapak Antropologi Indonesia. Sepanjang hidupnya Pak Koen dedikasikan untuk perkembangan Ilmu Antropologi, pendidikan Antropologi dan  segala sudut pandang yang berkaitan dengan kebudayaan dan kesukubangsaan di Indonesia.

Pameran Budaya dan Seni Koentjaraningrat, Peringati 100 Tahun Bapak Antropologi Indonesia

Setelah melakukan ziarah ke makam di Pemakaman Umum Karet Bivak, bertepatan dengan tanggal meninggalnya Pak Koen, dilaksanakan pada 23 Maret lalu, pada tanggal 8 Juni 2023, Pameran Budaya dan Seni โ€˜Peringatan 100 tahun Koentjaraningratโ€™ resmi dibuka.

Pak Hilmar beserta Ibu Stien Koentjaraningrat, dan Mbak Sitta

Pameran yang berlangsung dari tanggal 8 – 15 Juni 2023 ini, diresmikan secara langsung oleh Direktur Jendral Kebudayaan, Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, Hilmar Farid, sambil didampingi oleh Wakil Keluarga Besar, Ibu Stien Koentjaraningrat.

Ibu Stien Koentjaraningrat bersama Dekan FISIP UI, Pak Hilmar Farid serta tim Bentara Budaya dan Kurator Pameran

Melalui pameran dihadirkan aneka lukisan karya Pak Koen, koleksi seni, serta karya-karya tulisan Prof.Dr. Koentjaraningrat. Selain itu ada juga diskusi ilmiah serta Pagelaran Wayang Orang Bharata yang akan menjadi penutup rangkaian acara pada 15 Juni 2023, bertepatan dengan 100 tahun peringatan tahun kelahiran Koentjaraningrat.

Lukisan karya Pak Koen

Koleksi Perangko

Koleki Sketsa

Serangkaian peringatan ini juga merupakan moment membanggakan dan bersejarah merayakan jasa-jasa, kerja keras, semangat dan dedikasi Prof. Dr. Koentjaraningrat pada pendirian dan pengembangan ilmu Antropologi Indonesia, atas jasanya Ia diberi penghargaan sebagai Bapak Antropologi Indonesia oleh Lingkar Budaya Indonesia (LBI).

Gelaran acara yang sarat Kebudayaan dan Kesenian ini diselenggarakan oleh Keluarga Besar Koentjaraningrat dengan didukung oleh banyak pihak yang sangat menjunjung tinggi dedikasi dan sumbangsih Prof. Dr. Koentjaraningrat terhadap pengembangan Antropologi dimasanya hingga kini.

Pameran ini terbuka untuk umum, jadi jangan ragu untuk langsung datang ke Bentara Budaya Jakarta ya.

About Author

Dian Ravi. Muslimah travel blogger Indonesia. Jakarta. Part time blogger, full time day dreamer. Pink addict, but also love toska. See, even I cannot decide what's my favorite color is.Mau bikin bahagia, cukup ajak jalan dan foto-foto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *