Jajan

Sejak 1987, Rasa Ini Tak Pernah Ingkar Janji: Sebuah Catatan dari Ayam Lodho Pak Yusuf

​Ada satu titik dalam perjalanan mudik ketika tubuh mulai protes karena terlalu lama duduk, pikiran perlahan kosong, dan rasa bosan bertransformasi menjadi kelelahan yang sulit dijelaskan.​

Bukan lelah karena menyetir, karena di balik kemudi selalu ada suamiku yang sigap, tapi lelah menjadi seorang penumpang. Lelah karena terlalu lama diam, terjebak dalam kotak besi yang melaju konstan.​

Tol Trans-Jawa, bagi sebagian orang, adalah anugerah kecepatan. Tapi bagiku, tol itu panjang, lurus, dan terasa dingin. Belum lagi kejutan-kejutan lubang di aspalnya yang seringkali merusak irama. Tol adalah representasi hidup yang terlalu efisien: kita dipaksa segera sampai ke tujuan, namun seringkali lupa bagaimana cara menikmati prosesnya.​

Itulah alasannya, begitu mobil keluar dari gerbang tol dan mulai membelah jalur selatan, aku merasa seperti baru saja menarik napas panjang yang sudah lama tertahan.

Jalanan mulai berliku. Pemandangan di balik jendela tak lagi hanya beton dan pembatas jalan, tapi pepohonan, aktivitas pasar, hingga senyum orang-orang di pinggir jalan. Di jalur Wonogiri–Ponorogo–Trenggalek, ritme perjalanan melambat dengan caranya sendiri yang menenangkan.

​Dan di tengah rute meliuk itu, ada satu alasan kuat kenapa aku selalu menoleh ke suami dan berkata dengan nada penuh harap:

“Yang, nanti kita mampir ke sana lagi, ya?”​

Bukan, tujuanku bukan tempat wisata yang sedang hits atau coffee shop estetik dengan lampu neon. Tujuanku adalah sebuah meja sederhana di sudut Trenggalek: Ayam Lodho Pak Yusuf.

Ayam Lodho Pak Yusuf: Rasa yang Jujur, Sejak 1987

Di tempat ini, jangan harap kamu akan disodori buku menu tebal. Tidak ada pertanyaan basa-basi seperti, “Mau pesan apa, Kak?” Yang ada cuma satu: Ayam Lodho. Dan entah kenapa, justru di situlah letak ketenangannya. Di dunia yang memaksa kita terus memilih, pilih rute tercepat, pilih penginapan terbaik, pilih masa depan, meja Pak Yusuf menawarkan jeda. Kita tidak perlu berpikir. Kita cukup duduk, dan mereka tahu apa yang kita butuhkan.

Ayam Lodho Pak Yusuf sudah berdiri sejak 1987. Dan saat suapan pertama mendarat di lidah, usia itu terasa nyata. Bukan karena nostalgia yang dilebih-lebihkan, tapi karena konsistensinya yang luar biasa.​

Ini bukan tipe makanan yang sibuk bersolek mengikuti tren kuliner kekinian agar tetap relevan. Ini adalah makanan yang “tahu dirinya sendiri”.​

Ayamnya dipanggang dengan aroma smoky yang jujur, dipadukan dengan kuah santan kental yang medok dan pedas yang perlahan merayap. Ia tidak mencoba menjadi apa pun selain Ayam Lodho yang otentik. Rasa yang sama yang mungkin dirasakan orang-orang sejak puluhan tahun lalu, dan rasa yang sama yang membuatku jatuh cinta untuk kedua kalinya dalam perjalanan menuju Bondowoso ini.

Aroma Smoky yang Menghentikan Percakapan

Begitu piring disajikan di depan mata, hal pertama yang menyerang bukan rasa, tapi aroma.​

Aroma asap.​

Ada bau sangit yang sedap. Aroma ayam yang dipanggang dengan sabar di atas bara api, bukan sekadar ayam yang direbus lalu disiram kuah. Ada lapisan rasa “gosong” yang bukan pahit, tapi memberikan dimensi rasa yang dalam. Seperti jejak api yang sengaja ditinggalkan untuk mengingatkan bahwa ayam ini pernah bersentuhan langsung dengan bara yang panas.​

Dagingnya empuk, juicy, dan punya tekstur khas hasil panggangan tradisional. Ini bukan ayam rebus yang pasrah. Ini adalah ayam yang sudah “berjuang” melewati bara sebelum akhirnya masuk ke dalam kuah.

Kuah Santan yang “Tidak Sopan”

Lalu datanglah kuahnya, sosok yang sebenarnya menjadi nyawa dari hidangan ini. Ini bukan tipe kuah santan yang “sopan” atau malu-malu yang hanya sekadar lewat di lidah. Ini adalah kuah santan yang medok, berani, dan punya karakter yang sangat kuat.

Teksturnya kental, gurihnya mantap, dan seolah menyimpan rahasia rempah yang kompleks di setiap tetesnya. Rasa gurih santan yang tebal itu membawa jejak rasa tradisional yang jujur, sebuah bukti bahwa mereka tidak pernah pelit bumbu sejak puluhan tahun lalu.​

Saat sendok pertama masuk ke mulut, ada kehangatan dari kunyit dan jahe yang merambat perlahan di tenggorokan. Rasa hangat ini adalah penawar yang sempurna, sebuah pelukan yang kita butuhkan setelah berjam-jam tubuh dihajar udara dingin dari AC mobil yang kaku. Belum lagi sentuhan kencurnya yang memberikan dimensi rasa yang lebih “dalam”; sebuah aroma segar yang unik yang membuat lidah terus penasaran.​

Lalu, bagaimana dengan pedasnya? Di sini, pedas tidak datang untuk langsung menampar wajahmu di awal. Ia adalah tipe pedas yang sopan namun gigih; ia datang perlahan, merayap dari balik rasa gurih, lalu menetap dengan tenang di lidah. Rasanya hampir puitis, seperti rasa capek perjalanan panjang yang akhirnya diakui, dipeluk, lalu perlahan dilepaskan. Ini adalah tipe kuah yang punya kekuatan magis untuk membuat meja makan mendadak hening. Kamu akan mendapati dirimu diam sebentar, mengunyah lebih pelan demi menyesap setiap lapisan rasanya, dan tiba-tiba saja lupa tadi ingin mengobrol soal apa.

Nasi Gurih dan Urap: Simfoni Penyeimbang​

Ayam lodho ini tidak berdiri sendiri. Ia ditemani nasi gurih yang membuat santannya terasa makin kaya, serta urap sayur yang segar dan crunchy.​

Urap ini penting. Tanpa urap, rasa santannya mungkin akan terasa terlalu berat. Dengan urap, semuanya jadi seimbang, ada segar, ada gurih, ada hangat. Persis seperti perjalanan itu sendiri: butuh kombinasi yang pas antara lelah dan lega agar semuanya terasa bermakna.​

Ternyata, sesekali kita memang perlu keluar dari jalur cepat untuk menemukan kembali diri kita di sebuah meja makan di Trenggalek. Karena perjalanan bukan cuma soal sampai di tujuan, tapi tentang rasa yang kita bawa pulang.

Fasilitas yang Memanusiakan Pejalan​

Satu hal yang bikin aku semakin jatuh cinta untuk kedua kalinya di sini adalah betapa tempat ini sangat “mengerti” kebutuhan orang yang sedang dalam perjalanan jauh.​

Meski terlihat sederhana dari luar, Ayam Lodho Pak Yusuf punya area parkir yang sangat luas, nggak perlu drama rebutan lahan parkir meski saat musim mudik. Tempat makannya pun besar dan lega, cocok untuk meluruskan kaki yang pegal.​

Bagi pejalan, fasilitas pendukung adalah kunci. Di sini tersedia toilet yang bersih dan mushola yang terawat. Jadi, setelah perut kenyang dan jiwa tenang karena kuah lodho, kita bisa sekalian menunaikan kewajiban dan menyegarkan badan sebelum kembali membelah aspal menuju Malang atau Bondowoso. Ini adalah one-stop solution yang benar-benar memanusiakan pejalan.

Menikmati Jeda Tanpa Menguras Kantong​

Menariknya, kemantapan rasa legendaris ini tetap dibanderol dengan harga yang sangat masuk akal bagi para pejalan. Kamu bisa memilih paket sesuai kapasitas perutmu:​

  • Paket Per Porsi:​
    • Reguler: Rp35.000​
    • Medium: Rp38.000​
    • Super: Rp40.000
  • ​Paket Potongan Ayam: Mulai dari Rp25.000.
  • ​Paket Ayam Satu Ekor: Mulai dari Rp100.000 (cocok banget kalau kamu bawa rombongan keluarga).

Masih Mau Mampir Lagi?​

Ini bukan pertama kalinya kami ke sini, dan jujur saja, mungkin bukan yang terakhir. Ayam Lodho Pak Yusuf bukan cuma soal rasa enak, tapi soal rasa lega.​

Lega karena akhirnya berhenti. Lega karena perjalanan panjang punya jeda yang layak. Lega karena ada rasa yang jujur dan tidak berubah-ubah. Di tengah perjalanan mudik yang sering terasa seperti kewajiban, tempat ini jadi pengingat kecil bahwa perjalanan juga boleh dinikmati.​

Kalau kamu lewat Trenggalek, jangan cuma lewat. Menyimpang sedikit tidak selalu bikin kamu terlambat; kadang justru itu yang bikin perjalananmu terasa utuh. Dan kalau kamu duduk sebagai penumpang seperti aku, Ayam Lodho Pak Yusuf adalah alasan yang sangat masuk akal untuk menyandarkan kepala dan berkata:​

“Sayang, kita berhenti di sini ya.”

Ayam Lodho Pak Yusuf
Jl. Raya Kedunglurah, Brongkah Wetan, Kedunglurah, Kec. Pogalan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur 66371



Recent Posts

Bukan Sekadar Gengsi: Mengapa Tas Branded Kini Dipandang sebagai Aset Likuid

Selama puluhan tahun, emas selalu diposisikan sebagai aset paling aman dan mudah dicairkan. Namun, beberapa…

5 days ago

Transformasi IKEA PAX Jadi Walk-in Closet Minimalis untuk Rumah Tipe 36–45

Banyak pemilik rumah tipe 36–45 berpikir bahwa walk-in closet hanya cocok untuk rumah besar. Padahal,…

5 days ago

Capek Keliling Surabaya? Ini Cara Aman Buat Badan Balik Fit

Surabaya itu kota besar dengan ritme cepat. Panasnya terasa, jaraknya jauh-jauh, dan aktivitasnya padat. Mau…

1 week ago

Rekomendasi Perawatan Tanaman: Dari Hobi ke Kebutuhan Rumah yang Nyaman

Kalau kamu ngikutin tulisanku di blog ini, kamu pasti tahu satu hal: selain pantai, aku…

1 week ago

Tampil Maksimal Saat Traveling: Panduan Lengkap Gaya dan Perawatan Rambut Pria

Pernah nggak sih kamu lagi asyik scrolling galeri foto habis liburan, terus tiba-tiba merasa ada…

2 weeks ago

Menantang Adrenalin di Kali Cokel Pacitan: Dari Ketenangan “Amazon” Hingga Terhempas ke Lautan

Siapa bilang Pacitan cuma tentang gua yang sunyi atau pantai yang kelihatan tenang dari kejauhan?…

4 weeks ago