Selama puluhan tahun, emas selalu diposisikan sebagai aset paling aman dan mudah dicairkan. Namun, beberapa tahun terakhir terjadi pergeseran cara pandang, terutama di kalangan urban dan generasi produktif. Barang mewah seperti tas branded kini tidak lagi sekadar simbol gaya hidup, melainkan mulai diperlakukan sebagai aset likuid alternatif yang bisa diputar, dijual kembali, bahkan diwariskan.
Fenomena ini semakin kuat seiring berkembangnya pasar resale global dan kemudahan transaksi lintas negara. Pertanyaannya pun bergeser: bukan lagi soal “mana yang lebih mahal”, tetapi mana yang lebih cepat diuangkan dan memiliki pasar aktif.
Dalam dunia investasi, likuiditas berarti seberapa cepat suatu aset bisa diubah menjadi uang tunai tanpa kehilangan nilai signifikan. Emas unggul dalam aspek stabilitas dan standar harga global. Namun, proses penjualannya tetap membutuhkan langkah formal, seperti datang ke toko emas, pegadaian, atau lembaga tertentu.
Di sisi lain, tas branded, terutama edisi terbatas dari merek ternama, memiliki keunggulan berbeda. Pasar resale-nya aktif 24 jam melalui platform digital, komunitas kolektor, hingga personal buyer. Dalam banyak kasus, tas tertentu justru mengalami kenaikan harga dalam waktu relatif singkat karena kelangkaan dan permintaan global.
Salah satu faktor utama yang membuat tas branded semakin likuid adalah akses ke pasar internasional. Harga tas mewah di satu negara bisa berbeda jauh dengan negara lain. Amerika Serikat, misalnya, sering menjadi rujukan karena harga ritel yang lebih kompetitif dan ketersediaan model tertentu.
Kondisi ini mendorong praktik pembelian lintas negara, baik untuk koleksi pribadi maupun tujuan resale. Tidak sedikit pelaku pasar yang memanfaatkan layanan shipping from USA to Indonesia untuk mendapatkan tas branded dengan harga dan varian yang lebih menarik, lalu memasarkannya kembali ke segmen pembeli lokal. Dalam konteks ini, logistik bukan lagi sekadar urusan pengiriman, melainkan bagian dari strategi menjaga kecepatan perputaran aset.
Semakin cepat barang sampai dan siap dijual kembali, semakin tinggi tingkat likuiditasnya.
Meski terlihat menggiurkan, tas branded sebagai aset likuid tentu memiliki risiko yang tidak bisa diabaikan. Risiko keaslian, keterlambatan pengiriman, kerusakan barang, hingga kendala bea cukai adalah beberapa tantangan nyata, terutama dalam transaksi lintas negara.
Berbeda dengan emas yang memiliki standar fisik dan sertifikasi universal, tas branded sangat bergantung pada kondisi barang, kelengkapan dokumen, serta reputasi penjual. Di sinilah kepercayaan menjadi “mata uang” yang nilainya hampir setara dengan produknya sendiri.
Dalam ekosistem resale global, likuiditas tidak hanya ditentukan oleh permintaan pasar, tetapi juga oleh infrastruktur pendukung transaksi. Salah satunya adalah layanan pelanggan atau contact center yang berfungsi sebagai penghubung antara pembeli, penjual, dan penyedia jasa.
Saat terjadi kendala seperti keterlambatan pengiriman, kesalahan data, atau komplain terkait kondisi barang, keberadaan contact center yang responsif menjadi krusial. Layanan ini tidak hanya menyelesaikan masalah teknis, tetapi juga menjaga kepercayaan pembeli terhadap sistem transaksi secara keseluruhan. Tanpa dukungan tersebut, aset yang seharusnya mudah dicairkan justru bisa menjadi beban.
Jika dibandingkan secara objektif, emas tetap unggul sebagai aset lindung nilai jangka panjang. Namun, tas branded menawarkan fleksibilitas yang tidak dimiliki emas: bisa digunakan, dinikmati secara estetika, sekaligus dijual kembali saat nilai pasarnya menguntungkan.
Di era digital, aset yang “bergerak” dan terhubung dengan pasar global memiliki daya tarik tersendiri. Terutama bagi generasi yang terbiasa dengan transaksi cepat dan memandang nilai bukan hanya dari stabilitas, tetapi juga dari peluang.
Perubahan cara pandang terhadap aset menunjukkan satu hal penting: nilai tidak lagi semata-mata soal disimpan, tetapi bagaimana aset tersebut bisa bergerak, diperdagangkan, dan dipercaya. Emas dan tas branded kini berada dalam spektrum yang sama sebagai instrumen penyimpan nilai, dengan karakter dan risiko masing-masing.
Di tengah pasar resale global yang semakin matang, barang mewah bukan lagi sekadar konsumsi, melainkan bagian dari strategi finansial modern yang cair, adaptif, dan berbasis kepercayaan.
Dian Ravi. Muslimah travel blogger Indonesia. Jakarta. Part time blogger, full time day dreamer. Pink addict, but also love toska. See, even I cannot decide what’s my favorite color is.Mau bikin bahagia, cukup ajak jalan dan foto-foto.
Banyak pemilik rumah tipe 36–45 berpikir bahwa walk-in closet hanya cocok untuk rumah besar. Padahal,…
Surabaya itu kota besar dengan ritme cepat. Panasnya terasa, jaraknya jauh-jauh, dan aktivitasnya padat. Mau…
Kalau kamu ngikutin tulisanku di blog ini, kamu pasti tahu satu hal: selain pantai, aku…
Pernah nggak sih kamu lagi asyik scrolling galeri foto habis liburan, terus tiba-tiba merasa ada…
Siapa bilang Pacitan cuma tentang gua yang sunyi atau pantai yang kelihatan tenang dari kejauhan?…
Using a monthly villa as your declared address is possible with several institutions in Bali,…