bismillahirrahmanirrahim,
Gunung Papandayan, sebuah gunung berapi aktif yang terletak di Garut, Jawa Barat, terkenal dengan keindahan alamnya yang luar biasa. Gunung ini menjadi salah satu tujuan wisata favorit bagi para pendaki, baik pemula maupun profesional.
27 Januari 2024, akhirnya, salah satu impian dalam hidupku terwujud: mendaki Gunung Papandayan. Sudah tentu, pengalaman ini menjadi salah satu momen tak terlupakan dalam hidup aku.
Jujur, ketika memasukkan Papandayan ke dalam itinerary, keraguan melanda. Sanggupkah aku mendakinya? Katanya, gunung ini memang cocok bagi pemula, tapi aku merasa diriku lebih pantas disebut manula. Olahraga pun jarang-jarang, apalagi mendaki gunung. Gimana kalau nanti aku malah menyusahkan suami tersayang? Setelah melewati seribu satu kegalauan, akhirnya aku memutuskan kalau ke Gunung Papandayan ini harus jadi.
Perjalanan aku dimulai dari Seaside Sayang Heulang. Jarak sejauh 81 km itu rasanya penuh lika liku dan jalan berlubang. Belum-belum aku sudah merindukan kembali jalur pansela yang mulus dengan pemandangan cantik.
Menjelang jam 11 siang, aku dan suami tiba di pelataran parkir Papandayan. Bismillah, aku pasti sanggup, bisikku dalam hati, berusaha menyemangati diri. Di dekat gerbang jalur pendakian, tukang ojek menawarkan jasa mereka untuk mengantar pendaki sampai ke Pos 7 dengan tarif Rp 150.000. Naik ojek, ya? Pertimbangan waktu akhirnya mendorong kami untuk menggunakan jasa ojek. Kami khawatir jika berjalan kaki, kami akan sampai terlalu sore. Karena katanya kalau jalan kaki itu bisa memakan waktu sampai 3 jam, entah benar atau itu sekadar trik marketing dari mamang ojeknya. Aku tak mau ambil pusing. Yang penting, aku sudah tidak galau lagi memutuskan naik ojek aja.
Ternyata, naik ojek pun tak semudah yang dibayangkan. Jalanannya terjal dan mengerikan! Awal jalur pendakian di pos ini memang masih cukup mudah dengan tanjakan yang landai. Tapi semakin lama, tanjakan terasa lebih terjal. Apalagi ketika memasuki Pos 3 dan Pos 4. Jalur pendakian di pos ini semakin terjal dan berbatu.
Tanganku rasanya tak berani lepas dari pegangan motor. Kalau lengah sedikit, siap-siap terjatuh! Pikiran aku pun semakin liar, membayangkan kalau jatuh terus kepala terantuk batu. Sepanjang jalan, aku berusaha untuk mengenyahkan dari pikiran-pikiran buruk.
Memang sih, kata mamang ojeknya pun, kami sebenarnya membayar untuk petualangan menegangkan selama naik ojek. Bukan sekadar membayar transportasi saja.
Dari Pos 7, pendakian masih berlanjut sekitar 400 meter lagi menuju Hutan Mati. Aku cukup tahu diri, targetku hanya sampai Hutan Mati saja, meski saran dari mamang ojek wajib sampai Taman Edelweis. Kita lihat nanti lah, Mang.
Awalnya, aku meremehkan 400 meter itu. Tapi, mengingat tanjakan yang terjal, berkali-kali aku berhenti dan ingin menyerah. Untunglah, suamiku selalu sabar menyemangati. Pendaki lain yang berpapasan pun tak kalah suportif. Mereka menyemangatiku dengan berkata, “Sedikit lagi sampai! Semangat!”. Kenyataannya, perjalanan masih terasa panjang.
Yeayyy! I made it! Jangan tanya seberapa bahagianya aku saat itu. Sungguh tak terbayangkan bahwa aku berhasil mencapai Hutan Mati.
Hutan Mati sungguh menakjubkan. Pohon-pohon mati berdiri tegak di sana, seperti menceritakan kisah masa lampau. Pemandangannya begitu magis dan membuatku terpaku. Aku takjub dengan ciptaan Allah yang begitu indah.
Di Hutan Mati, aku tak lupa mengabadikan momen dengan berfoto. Aku ingin selalu mengingat momen pendakian pertamaku ini. Setelah puas menikmati keindahan Hutan Mati, kami pun turun gunung, mengingat langit yang semakin gelap, khawatir hujan turun, sementara jas hujan malah tertinggal di mobil.
Turun pakai ojek lagi? Tentu tidak. Aku berhasil turun berjalan kaki sampai parkiran. Bahkan hanya dengan 2 kali berhenti untuk istiraharat sejenak. Eh, bonus hampir jatuh sih.
Pendakian Gunung Papandayan menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Aku belajar bahwa aku mampu melakukan hal-hal yang sebelumnya tak terbayangkan. Aku juga belajar tentang arti kesabaran dan semangat pantang menyerah. Terima kasih, Papandayan, atas pengalaman yang luar biasa ini!
Gunung Papandayang terletak di Desa Papandayan, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Gunung yang berada di ketinggian 2.665 meter di atas permukaan laut ini memiliki 4 jalur pendakian yang bisa kamu pilih, yaitu jalur Tegal Alun, Pondok Saladah, Cisurupan, dan Gambung dengan perkiraan waktu 4-5 untuk mencapai puncak.
Gunung Papandayan adalah salah satu gunung yang wajib didaki bagi para pecinta alam. Atau paling tidak satu kali seumur hidup, pernahlah sampai di sini, mengingat jalur daki Gunung Papandayan katanya ramah bagi pemula. Bukan kata aku lho yaaaaa…..
Pendakian ini memberikan pengalaman yang tak terlupakan dengan keindahan alam yang luar biasa. Pastikan kamu mempersiapkan diri dengan baik sebelum pendakian dan patuhi peraturan yang berlaku.
Setelah ini gunung mana lagi nih?
x.o.x.o
Dian Ravi. Muslimah travel blogger Indonesia. Jakarta. Part time blogger, full time day dreamer. Pink addict, but also love toska. See, even I cannot decide what’s my favorite color is.Mau bikin bahagia, cukup ajak jalan dan foto-foto.
Perkembangan kendaraan listrik di Indonesia semakin pesat dalam beberapa tahun terakhir. Dukungan pemerintah, meningkatnya kesadaran…
Dalam beberapa tahun terakhir, olahraga padel semakin populer di Indonesia, terutama di kalangan urban dan…
Setelah seharian beraktivitas di Seminyak, tubuh tentu membutuhkan istirahat. Kaki terasa pegal, bahu kaku, dan…
Bondowoso, bagi banyak orang, adalah kota yang menawarkan pelukan ketenangan. Di sini, waktu seolah berjalan…
Berhenti merokok itu jarang sesederhana, “Yaudah, besok nggak lagi.” Kalau semudah itu, mungkin nggak akan…
Ada satu titik dalam perjalanan mudik ketika tubuh mulai protes karena terlalu lama duduk, pikiran…