Siapa bilang Pacitan cuma tentang gua yang sunyi atau pantai yang kelihatan tenang dari kejauhan?
Pagi itu, di salah satu sudut tersembunyi Jawa Timur, aku baru sadar satu hal penting: jarak antara rasa damai dan adrenalin yang melonjak ternyata tipis banget, kadang cuma selebar satu tikungan muara sungai.
Di sini, ketenangan bisa berubah arah tanpa aba-aba. Air yang tadi mengalir pelan, mendadak membawa perahu kecil ke ruang yang sama sekali berbeda. Dan di situlah aku paham, Pacitan bukan cuma soal menenangkan diri, tapi juga soal menguji nyali kecil yang sering kita kira aman-aman saja.
Pagi di Pacitan selalu punya aroma yang khas. Perpaduan udara laut yang asin dengan wangi pepohonan yang masih basah oleh embun. Sekitar pukul delapan pagi, setelah menghabiskan sarapan hangat di Arry’s Watukarung, aku langsung beres-beres dan bersiap checkout.
Kenapa pagi-pagi banget? Karena aku nggak mau melewatkan momen ketika matahari masih ramah dan udara belum berubah jadi gerah khas siang hari. Lagipula, jarak dari Arry’s Watukarung ke Kali Cokel itu cuma sekitar satu kilometer. Dekat banget. Ibarat baru mau nyalain playlist lagu favorit di mobil, eh… tujuan sudah di depan mata.
Dengan semangat yang masih penuh dan perut yang sudah aman, aku meluncur ke dermaga kecil di tepian Kali Cokel. Suasananya tenang. Matahari belum terlalu terik, sinarnya masih malu-malu menembus sela-sela daun kelapa. Sungai mengalir pelan, nyaris tanpa gelombang.
Benar-benar pagi yang terlihat sempurna untuk sekadar “nyusurin sungai”, pikirku saat itu. Tenang. Santai. Aman.
Oh, betapa naifnya aku.
Begitu menapakkan kaki di dermaga, suasana asri langsung menyergap. Tiket masuknya sangat terjangkau, cuma Rp25.000 per orang. Dengan harga segitu, aku sudah bisa mendapatkan satu kursi di perahu motor nelayan yang siap membawa aku berkeliling.
Awalnya, perjalanan ini terasa sangat zen. Perahu melaju pelan, membelah permukaan air sungai yang berwarna hijau toska. Di kanan dan kiri sungai, hutan alami dengan jajaran pohon kelapa yang menjulang tinggi seolah menjadi pagar pelindung bagi siapa pun yang melintas.
Suasananya begitu tenang, sejuk, dan asri. Angin berhembus sepoi-sepoi, dan satu-satunya suara yang terdengar adalah deru mesin perahu yang lirih serta kecipak air. Aku teringat beberapa artikel yang menyebut tempat ini sebagai “Amazon-nya Jawa”. Memang nggak berlebihan. Di sini, aku masih bisa senyam-senyum manis ke arah kamera, ambil video aesthetic buat sosial media, sambil sesekali membetulkan posisi duduk.
“Ah, indahnya hidup,” gumamku dalam hati. Ketenangan ini benar-benar membuatku lengah.
Perahu terus melaju menuju muara. Aku melihat batas antara air sungai yang hijau tenang dan cakrawala laut yang luas di depan sana. Masih dengan senyum yang sama, aku pikir perahu ini cuma bakal berputar-putar cantik di sekitar muara lalu balik lagi ke dermaga.
Tapi, bapak pengemudi perahunya punya rencana lain yang lebih seru (dan menakutkan).
Tanpa aba-aba, perahu diarahkan lurus menembus pertemuan arus sungai dan laut. Begitu moncong perahu menyentuh air laut, ritme permainan berubah total! Mesin yang tadinya menderu lirih tiba-tiba digas kencang. Perahu yang tadinya meluncur tenang sekarang mulai berguncang hebat dihantam ombak Samudera Hindia yang terkenal garang.
Ngeri nggak tuh? Banget!
Senyum manis yang aku pasang sejak dari dermaga tadi seketika hilang tak berbekas. Tanganku mencengkeram pinggiran perahu kuat-kuat. Di aliran sungai tadi perahu melaju pelan, tapi begitu masuk ke lautan, perahu melaju dengan kencang seolah sedang balapan. Aku bisa merasakan deburan ombak yang sesekali menciprat ke wajah dan kencangnya angin di tengah laut.
Di tengah laut lepas itu, perahu kami terasa kecil banget dibandingkan kekuatan ombak di depan mata. Ini benar-benar bagian paling seru sekaligus menantang adrenalin. Butuh waktu beberapa menit buat aku sekadar mengatur napas dan mencoba kembali tersenyum. Itu pun senyum yang agak dipaksakan karena jantung masih dug-dug-ser.
Tapi jujur saja, semua rasa ngeri itu jadi sepadan ketika aku mulai berani membuka mata lebar-lebar. Pemandangan dari tengah laut itu luar biasa!
Aku bisa melihat bukit-bukit hijau yang berjejer rapi di sepanjang pesisir, hingga batu-batu karang besar yang indah dan kokoh berdiri tegak melawan hantaman ombak. Gradasi warna airnya, tekstur karangnya, hingga luasnya langit biru di atas sana membuatku tersadar: perjalanan yang menakutkan tadi adalah harga yang harus dibayar untuk melihat kemegahan ini.
Perlahan, senyumku mulai kembali. Bukan lagi senyum buat konten, tapi senyum karena benar-benar kagum.
Setelah puas “diacak-acak” ombak laut dan dikasih bonus pemandangan karang yang cantik, perahu akhirnya putar balik menuju ketenangan sungai lagi. Rasanya kayak baru turun dari wahana ekstrem di Dufan tapi versi alam liar.
Satu hal yang perlu kamu tahu, lokasi Kali Cokel ini juga nggak jauh dari Pantai Kasap. Itu lho, pantai yang katanya “Raja Ampat-nya Pulau Jawa” karena punya gugusan pulau-pulau kecil kalau dilihat dari ketinggian bukitnya. Jadi, sekali jalan, kamu bisa dapat dua destinasi kelas dunia sekaligus.
Buat kamu yang mau ke sini, nggak perlu takut kantong jebol. Berikut adalah rincian biaya yang aku keluarkan (estimasi):
Catatan: Harga bisa berubah sewaktu-waktu, jadi pastikan bawa uang tunai lebih ya.
Kalau kamu tertarik buat mencoba pengalaman yang sama, ini ada sedikit tips dari aku:
Lokasi Kali Cokel ini juga nggak jauh dari Pantai Kasap yang katanya Raja Ampat-nya pulau Jawa. Jadi, sekali jalan, kamu bisa borong banyak konten cantik sekaligus!Perjalanan ini mengajarkan aku kalau hidup itu kadang perlu sedikit kejutan. Kita nggak bisa selamanya di “sungai” yang tenang; sesekali kita harus berani dibawa ke “laut” yang penuh ombak untuk bisa melihat karang-karang yang indah.
Jadi, kapan kamu mau ke Pacitan dan ngerasain sendiri sensasi senyum yang tiba-tiba hilang di Kali Cokel?
x.o.x.o
Dian Ravi. Muslimah travel blogger Indonesia. Jakarta. Part time blogger, full time day dreamer. Pink addict, but also love toska. See, even I cannot decide what’s my favorite color is.Mau bikin bahagia, cukup ajak jalan dan foto-foto.
Using a monthly villa as your declared address is possible with several institutions in Bali,…
Ada kota yang cukup dikunjungi sekali, lalu selesai. Ada juga yang dua kali, habis itu…
Menjelang akhir 2025, aku mulai berdamai dengan satu keputusan besar: 2026 sepertinya bukan tahun penuh…
Aku selalu bilang ke teman-teman, jalan-jalan itu bukan cuma soal destinasi, tapi soal menemukan hal-hal…
Persaingan dalam bisnis rental mobil terus meningkat setiap tahun. Penyewa tidak hanya mencari kendaraan yang…
Searching for a room in Singapore can feel like a puzzle with many moving pieces.…