Setelah sukses menjejakkan kaki di Gunung Papandayan (ceritanya bisa dibaca di sini atau versi reflektifnya di sini), akhirnya aku bisa mencoret satu lagi wishlist gunung di tahun yang sama, 2024: Gunung Bromo!
Perjalanan ini sebenarnya bukan trip tunggal, melainkan bagian dari roadtrip panjang menuju Bondowoso. Malang menjadi salah satu kota persinggahan dengan tiga alasan utama. Pertama, untuk bersilaturahmi dengan teman ayah ibu yang dulu dianggap sebagai orangtua asuh Mas Metra ketika masih sekolah di Malang. Kedua, tentu saja untuk liburan dan eksplor Malang yang sudah lama ada di daftar destinasi incaranku. Dan ketiga, alasan yang paling bikin hati berdebar, adalah keinginan lamaku untuk menyaksikan langsung keindahan Bromo. Dari dulu aku selalu membayangkan bagaimana rasanya berdiri di lautan pasir, menyaksikan matahari terbit di balik siluet gunung, dan akhirnya kesempatan itu benar-benar datang.
Rute roadtrip kami bisa dibilang cukup melelahkan tapi seru: Majalengka – Ciamis – Pangandaran – Purwokerto – Bantul – Gunung Kidul – Pacitan – Kediri – hingga akhirnya sampai di Malang. Total jarak tempuhnya memang panjang, tapi setiap kota punya cerita kecilnya sendiri. Ketika akhirnya tiba di Malang, rasanya lega sekaligus penuh semangat karena ada banyak agenda menunggu untuk dieksekusi.
Untuk urusan menginap, aku memilih Grand Citihub Hotel @Kajoetangan. Alasannya sederhana: aku tidak punya energi lebih untuk unpacking–repacking kalau harus pindah-pindah hotel. Jadi lebih baik pilih satu hotel saja yang lokasinya strategis, dekat dengan beberapa destinasi incaran, sehingga bisa dijangkau hanya dengan berjalan kaki. Hemat tenaga, hemat waktu, dan tetap nyaman.
Nah, soal Bromo, aku memutuskan ikut open trip bareng Exotic Bromo dengan biaya Rp350.000 per orang. Menurutku, harga ini cukup worth it, karena sudah termasuk transportasi, guide, dokumentasi, dan itinerary lengkap untuk menikmati sunrise hingga jelajah spot-spot ikonik Bromo. Tinggal bawa diri, kamera, dan semangat,semuanya sudah diurus dengan rapi oleh pihak trip.
Untuk trip ke Bromo kali ini, aku memilih ikut open trip bareng Exotic Bromo. Biayanya cukup terjangkau: Rp350.000 per orang untuk weekend, atau Rp325.000 kalau weekday. Meeting point-nya di Kota Malang, jadi praktis banget buat yang memang sedang menginap di sekitar kota.
Dengan harga tersebut, itinerary yang ditawarkan cukup lengkap. Promo saat ini mencakup kunjungan ke beberapa spot ikonik: sunrise point, Widodaren, kawasan kawah Bromo, Pura Luhur Poten, Gunung Batok, Pusung Gedhe, Watu Singo, Lembah Watangan, Savana Bromo, hingga Watu Gede. Semua spot yang biasanya jadi wishlist pertama kali ke Bromo, bisa kamu dapatkan dalam sekali perjalanan.
Soal fasilitas, paket open trip ini sudah termasuk penjemputan area Kota Malang, jeep hardtop 4×4, tiket masuk Bromo, tour leader berlisensi, sekaligus tour leader yang siap jadi fotografer dadakan. Dokumentasi juga bukan sekadar foto ala kadarnya, tapi all file dengan jumlah unlimited, plus beberapa foto hasil editan yang lebih rapi. Jadi kamu bisa lebih fokus menikmati perjalanan, tanpa khawatir momen terlewat.
Kalau ingin lebih privat, Exotic Bromo juga menyediakan opsi private trip dengan harga mulai Rp415.000 per orang di weekday, dan Rp440.000 di weekend. Fasilitasnya mirip dengan open trip, hanya saja ada bonus ekstra berupa dokumentasi dalam bentuk video reels, cocok banget buat yang ingin langsung update di media sosial dengan hasil yang lebih estetik.
Open trip Bromo yang aku ikuti seharusnya menjemput pukul 12 malam. Sejak sore aku sudah berniat untuk tidur sebentar, supaya tubuh lebih segar saat berangkat. Tapi kenyataannya, mataku sama sekali tidak bisa terpejam. Antara terlalu bersemangat dan tidak sabar menunggu, akhirnya aku hanya gelisah bolak-balik di kamar.
Bahkan ketika belum ada kabar dari driver, sekitar jam dua belas tepat kami sudah turun dan duduk manis di lobi hotel. Tas sudah siap, jaket sudah dipakai, tinggal menunggu. Waktu terus berjalan, dan barulah sekitar jam satu dini hari mobil penjemput datang.
Kami dijemput menggunakan MPV, total ada lima orang termasuk kami yang berangkat dari Malang menuju basecamp Exotic Bromo. Perjalanan dari Malang ke base camp memakan waktu kurang lebih satu jam. Jalanan gelap, sunyi, hanya sesekali cahaya lampu kendaraan lain yang lewat. Begitu mobil melaju menembus dinginnya malam, rasa kantuk akhirnya menang. Aku pun terlelap sepanjang perjalanan.
Sesampainya di base camp, kami tidak langsung berangkat. Masih ada waktu untuk duduk santai, meregangkan badan, dan menunggu peserta lain berkumpul. Ternyata jumlah peserta open trip kali ini cukup banyak, mungkin karena kebetulan malam minggu. Suasana base camp pun ramai, penuh dengan obrolan pelan, derap langkah orang-orang yang baru tiba, dan deretan jeep yang sudah siap mengantar para peserta.
Setelah semua peserta terkumpul, barulah kami dibagi ke dalam kelompok jeep. Rombonganku total ada sepuluh orang, ditambah satu driver. Jeep kami berwarna mencolok, dan begitu melihatnya, aku sudah bisa membayangkan betapa serunya perjalanan menuju Bromo nanti.
Salah satu hal yang menurutku cukup menyenangkan dari ikut open trip seperti ini adalah adanya fasilitas dokumentasi. Jadi, meskipun aku sibuk menikmati suasana atau sekadar kebingungan mencari angle foto terbaik, sudah ada tim yang siap membantu mengabadikan momen. Rasanya cukup lega, karena perjalanan seperti ini pasti banyak detail kecil yang bisa luput kalau hanya mengandalkan kamera sendiri. Setidaknya, ada jaminan kalau kenangan Bromo tidak hanya tersimpan di ingatan, tetapi juga bisa kulihat lagi nanti dalam bentuk foto dan video.
Begitu rombongan jeep dibagi, kami langsung bersiap menuju area sunrise point. Perjalanan dengan jeep inilah yang sering disebut-sebut orang: ajrut-ajrutan. Jalan berliku, penuh batu, naik turun tajam. Sebenarnya aku ingin menikmati pemandangan sepanjang jalan, tapi karena gelap gulita, tak ada yang bisa kulihat selain sorot lampu kendaraan di depan. Akhirnya aku memilih tidur sambil membiarkan kepala terhantam-hantam kecil di kursi jeep. Bahkan tripodku sempat terlempar keluar dari tas, untung tidak sampai hilang.
Memasuki kawasan Bromo, tanda-tanda kemacetan mulai terasa. Jeep-jeep berderet panjang, suara mesin bercampur dengan deru angin malam. Sambil menunggu waktu sunrise tiba, kami memilih berhenti sejenak di sebuah warung. Mengisi perut dengan minuman hangat dan sedikit makanan ringan, sekaligus menunaikan shalat subuh.
Barulah menjelang fajar, jeep kami bergerak menuju sunrise point. Saat itu juga aku langsung sadar: timing-ku ke Bromo benar-benar kurang pas. Malam minggu. Sudah bisa ditebak, pengunjung membludak di mana-mana. Tapi mau bagaimana lagi? Sebagai istri seorang milanista, aku harus menyesuaikan itinerary dengan jadwal pertandingan AC Milan. Malam pertama kami tiba di Malang bertepatan dengan match penting, jadi otomatis rencana ke Bromo baru bisa dijalankan Sabtu dini hari. Konsekuensinya jelas: harus rela berdesakan dengan ratusan orang lain demi mengejar sunrise.
Ditambah lagi kabut yang datang dan pergi, membuat kami harus sigap mengejar momen. Begitu matahari mulai menampakkan diri, rasanya semua orang berlomba-lomba mengabadikan pemandangan. Antara sunrise yang perlahan menyingkap langit dan siluet gunung di kejauhan, suasana begitu riuh sekaligus magis.
Perjalanan open trip tidak berhenti di sunrise point saja. Setelah puas mengejar cahaya matahari, kami melanjutkan jelajah ke beberapa spot ikonik di kawasan Bromo.
Pertama, kami tiba di Pasir Berbisik. Hamparan pasir hitamnya begitu luas, membuatku merasa kecil sekali di tengah bentangan alam yang seakan tak berujung. Angin berhembus kencang, membawa butiran pasir beterbangan. Awalnya agak menyebalkan karena pasir masuk ke mata dan rambut, tapi lama-lama justru terasa dramatis. Seperti sedang ada di dunia lain, sunyi, tapi penuh daya tarik.
Dari sana, perjalanan berlanjut ke Bukit Teletubbies. Begitu sampai, suasananya langsung berubah total. Setelah sebelumnya hanya melihat pasir kelabu, kini mata dimanjakan dengan perbukitan hijau bergelombang yang segar. Rasanya kontras sekali, tapi indah. Duduk sebentar di rerumputan, aku bisa menghirup udara segar sambil memandang bukit-bukit yang seolah tak habis. Nama “Bukit Teletubbies” mungkin terdengar lucu, tapi memang pemandangannya seceria itu.
Dan kalau ada yang khawatir lapar selama jelajah, ternyata sama sekali tidak perlu. Di sekitar kawasan banyak pedagang yang menawarkan jajanan. Bahkan abang bakso keliling pun ada, menggunakan motor di tengah lautan pasir. Kapan lagi coba makan bakso dengan pemandangan seindah ini? Ya kan yaaaaa?!
Harusnya, agenda open trip juga termasuk kunjungan ke kawah Bromo. Sayangnya, saat itu status gunung sedang siaga sehingga area kawah ditutup untuk sementara. Ada sedikit rasa kecewa, apalagi kawah adalah salah satu ikon utama Bromo. Namun aku memilih menerima kenyataan ini. Lagipula, dengan pengalaman menikmati sunrise, Pasir Berbisik, dan Bukit Teletubbies, rasanya Bromo tetap menghadirkan pesonanya sendiri. Ada janji dalam hati: suatu hari nanti, aku harus kembali untuk melihat kawah dengan mata kepala sendiri.
Di luar dugaan, hal yang paling membuatku bersemangat justru bukan cuma kawah atau bukit, melainkan deretan jeep warna-warni yang berjajar di lautan pasir. Dari kejauhan, jeep-jeep itu tampak seperti titik-titik kecil berwarna, tapi begitu mendekat, rasanya seperti melihat pameran mobil klasik di tengah padang luas.
Setiap kali menemukan jeep dengan warna berbeda, aku merasa harus mengabadikannya. Satu jeep hijau mencolok, lalu biru tua yang gagah, merah menyala yang terlihat paling menantang, sampai kuning cerah yang tampak paling ceria, semuanya ingin kujadikan koleksi foto. Bukannya sekadar kendaraan pengantar wisatawan, jeep-jeep ini justru seperti ikon Bromo yang punya daya tarik sendiri.
Entah sejak kapan, tapi sepertinya aku memang sedikit terobsesi dengan jeep. Rasanya ada kepuasan tersendiri setiap kali berhasil mengumpulkan foto dengan latar warna berbeda. Dan di sela-sela itu, muncul pikiran iseng: kalau boleh minta mobil baru, aku ikhlas dibelikan Suzuki Jimny. Tidak harus langsung warna merah menyala, hijau pun jadi, asal nanti aku diajak jalan-jalan keliling Indonesia.
Menjelang siang, perjalanan open trip akhirnya selesai. Jeep kami kembali menuju base camp, lalu dilanjutkan perjalanan balik ke Malang. Begitu tiba di hotel, rasanya tenaga benar-benar terkuras habis. Angin dingin Bromo, ajrut-ajrutan di jeep, hingga berdesakan di sunrise point membuat tubuhku terasa remuk. Rencana awalnya, aku masih ingin jalan-jalan santai di sekitar Malang, sekadar mencari kuliner atau menikmati suasana kota. Tapi begitu rebahan di kasur, semua niat itu lenyap. Mataku langsung terpejam, dan aku tenggelam dalam tidur panjang tanpa bisa melawan.
Meski begitu, ada satu hal yang mengendap di benak: aku ingin kembali ke Bromo lagi. Perjalanan kali ini memang berkesan, tapi juga penuh keterbatasan. Sunrise yang terlalu ramai, kawah yang ditutup, dan waktu yang begitu singkat membuatku merasa masih ada yang kurang. Jika suatu hari bisa kembali, aku ingin mencoba jalur berbeda, lewat Probolinggo, dan menginap di sekitar kawasan Bromo. Dengan begitu, mungkin aku bisa menikmati suasana lebih santai, tak terburu-buru, dan benar-benar menyerap keindahan gunung ini tanpa harus berdesakan.
Kalau kamu sendiri, bagaimana pengalamanmu ke Bromo? Pernah ikut open trip seperti ini, atau justru punya cerita lain yang lebih seru? Spot mana yang jadi favoritmu, sunrise point, kawah, Pasir Berbisik, atau Bukit Teletubbies? Dan menurutmu, jalur mana yang paling nyaman untuk ke Bromo: Malang atau Probolinggo? Ceritain di kolom komentar ya, siapa tahu bisa jadi inspirasi untuk perjalananku berikutnya.
x.o.x.o
Dian Ravi. Muslimah travel blogger Indonesia. Jakarta. Part time blogger, full time day dreamer. Pink addict, but also love toska. See, even I cannot decide what’s my favorite color is.Mau bikin bahagia, cukup ajak jalan dan foto-foto.
Siapa bilang Pacitan cuma tentang gua yang sunyi atau pantai yang kelihatan tenang dari kejauhan?…
Using a monthly villa as your declared address is possible with several institutions in Bali,…
Ada kota yang cukup dikunjungi sekali, lalu selesai. Ada juga yang dua kali, habis itu…
Menjelang akhir 2025, aku mulai berdamai dengan satu keputusan besar: 2026 sepertinya bukan tahun penuh…
Aku selalu bilang ke teman-teman, jalan-jalan itu bukan cuma soal destinasi, tapi soal menemukan hal-hal…
Persaingan dalam bisnis rental mobil terus meningkat setiap tahun. Penyewa tidak hanya mencari kendaraan yang…