
Ada sesuatu yang ganjil di antara ombak dan pasir putih. Bukan kerang, bukan rumput laut, tapi kotak putih ringan yang seharusnya tak ada di sana, styrofoam box, sisa bungkus makanan yang hanyut entah dari mana. Rengkuh Banyu Mahandaru masih ingat betul momen itu. Saat ia menyelam di perairan tropis yang seharusnya penuh ikan, justru ia menemukan pemandangan yang menyesakkan dada. Laut yang mestinya biru jernih kini menampung bekas kenyamanan manusia modern.
“Yang saya lihat bukan lagi ikan, tapi styrofoam box dan plastik kemasan,” kenangnya dalam satu wawancara radio.
Dari situ, kisahnya dimulai, sebuah perjalanan yang membawa Rengkuh dari keresahan menjadi aksi nyata, dari ide sederhana menjadi gerakan yang mengubah cara pandang banyak orang terhadap sampah dan kemasan.
Saat Makan Siang Jadi Masalah Serius
Coba perhatikan saat kita memesan makanan online. Praktis, cepat, dan sering kali datang dalam wadah putih ringan bernama styrofoam. Tapi di balik kenyamanan itu, ada konsekuensi yang jarang kita pikirkan.
Styrofoam memang murah dan mudah didapat, tapi butuh waktu ratusan bahkan jutaan tahun untuk terurai. Dalam waktu sesingkat makan siang, kita menghasilkan limbah yang bisa bertahan lebih lama dari umur manusia.
Data dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tahun 2018 menunjukkan, sekitar 0,27 hingga 0,59 juta ton sampah masuk ke laut Indonesia setiap tahun, dan styrofoam menjadi salah satu penyumbang utamanya. Tak sedikit pantai di Kepulauan Seribu yang kini tertutup lapisan sampah putih ini.
Yang lebih menakutkan: styrofoam mengandung benzena dan stirena, zat berbahaya yang berpotensi memicu kanker. Artinya, apa yang selama ini kita anggap sepele, sebenarnya sedang meracuni bumi dan tubuh kita perlahan-lahan.
Inspirasi dari Jaipur: Belajar dari Piring Daun
Beberapa tahun lalu, Rengkuh melakukan perjalanan ke Jaipur, India. Di sana, di tengah hiruk pikuk pasar tradisional, ia menemukan sesuatu yang menginspirasi: piring dan mangkuk yang terbuat dari daun jati kering.
Sederhana, tapi penuh makna. Masyarakat India menggunakan daun-daun itu untuk membungkus dan menyajikan makanan. Setelah digunakan, semuanya kembali ke tanah tanpa meninggalkan jejak.
“Di India, tumpukan sampah itu organik semua, bisa dijadikan kompos. Dulu di Indonesia juga begitu, pakai daun pisang, daun jati, semua alami,” ujarnya.
Sepulang dari perjalanan itu, pikirannya tak tenang. Ia mulai melihat bahwa Indonesia sesungguhnya punya sejarah panjang dengan kemasan alami. Hanya saja, perlahan, kebiasaan itu tergeser oleh plastik dan styrofoam yang lebih murah tapi tak bisa hilang.
Menemukan Harapan di Pelepah Pinang

Perjalanan Rengkuh menemukan jawabannya tidak di kota besar, tapi di pedesaan Sumatera Selatan dan Jambi. Di sana, ia menemukan gunungan pelepah pohon pinang, sisa dari perkebunan yang selama ini dianggap limbah tak berguna.
“Padahal, pelepah pinang itu kuat, lentur, dan tahan panas. Kalau diolah dengan benar, bisa jadi bahan kemasan alami,” katanya.
Dari ide itulah lahir Plepah, sebuah usaha sosial yang berdiri tahun 2018 dengan misi sederhana: mengubah limbah pelepah pinang menjadi kemasan ramah lingkungan yang bisa menggantikan styrofoam dan plastik.
Plepah: Dari Desa, untuk Dunia

Plepah bukan sekadar usaha rintisan (startup). Ia adalah jembatan antara keresahan dan solusi, antara desa dan pasar global.
Rengkuh memulai semuanya dengan memberdayakan petani pinang di Jambi dan Sumatera Selatan. Sebelumnya, para petani hanya menjual biji pinang. Pelepahnya dibuang begitu saja. Sekarang, bagian yang dulunya dianggap sampah itu justru menjadi sumber penghasilan baru.
Lewat sistem koperasi, mereka diajari cara mengeringkan, memotong, dan mengepres pelepah dengan mesin sederhana. Dari situ, lahirlah piring, mangkuk, dan wadah makanan yang cantik dengan serat alami khas pohon pinang.
Harga jualnya kini bisa mencapai Rp2.000 per buah, dan petani mendapatkan tambahan pendapatan hingga Rp1,5–3 juta per bulan. Dalam beberapa tahun, lebih dari 3.000 petani (854 keluarga) terlibat dalam rantai produksi Plepah, mencakup area perkebunan lebih dari 150.000 hektare.
Dari hutan tropis di Jambi, produk-produk Plepah kini dikirim ke kafe, restoran, bahkan diekspor ke Jepang dan Australia.
Bukan Sekadar Produk, tapi Prinsip Hidup

Yang membuat Plepah berbeda bukan hanya bahannya, tapi juga filosofi di baliknya.
Setiap lembar pelepah pinang membawa cerita tentang perubahan, tentang bagaimana sesuatu yang dibuang bisa kembali bernilai, tentang bagaimana alam memberi peluang untuk memperbaiki kesalahan manusia.
Kemasan dari Plepah tahan air, bisa digunakan untuk makanan panas, bahkan kuat menahan suhu hingga 200 derajat Celsius di oven atau microwave. Sebelum dikirim, semua produk disterilkan dengan sinar UV untuk memastikan keamanan makanan.
Namun, bagi Rengkuh, keberhasilan sejati bukan di angka penjualan atau ekspor, melainkan pada perubahan pola pikir masyarakat. Bahwa kemasan bukan sekadar wadah, tapi pernyataan tentang tanggung jawab kita terhadap bumi.
Tantangan: Harga, Pasar, dan Persepsi
Tentu saja perjalanan Plepah tidak selalu mulus. Harga kemasan dari pelepah pinang masih lebih mahal dibandingkan styrofoam atau plastik biasa. Dalam dunia bisnis yang serba cepat dan efisien, banyak pelaku usaha kecil yang masih ragu untuk beralih.
“Kalau dibandingkan langsung dengan styrofoam, jelas kalah murah. Tapi kalau kita hitung dengan biaya lingkungan dan kesehatan? Styrofoam jauh lebih mahal,” kata Rengkuh tegas.
Ia sadar bahwa perubahan tidak bisa instan. Tapi setiap kali melihat petani tersenyum saat menerima hasil penjualan, atau melihat pelanggan yang bangga menggunakan kemasan alami, keyakinannya tumbuh kembali.
“Ini bukan cuma soal bisnis. Ini soal masa depan anak cucu kita,” tambahnya.
Pengakuan dan Apresiasi: SATU Indonesia Awards 2023

Usaha keras dan idealisme Rengkuh akhirnya mendapat pengakuan. Tahun 2023, Rengkuh Banyu Mahandaru dan tim Plepah terpilih sebagai penerima SATU Indonesia Awards kategori Kelompok, penghargaan dari Astra yang diberikan untuk anak muda Indonesia yang membawa perubahan positif di lingkungannya.
Bagi Rengkuh, penghargaan itu bukan akhir, melainkan awal dari tanggung jawab baru. “SATU Indonesia Awards bukan cuma tentang apresiasi, tapi tentang validasi bahwa yang kami lakukan benar dan berdampak,” ujarnya.
Kini, nama Plepah semakin dikenal sebagai simbol inovasi hijau dari Indonesia. Produk-produknya telah melangkah jauh melintasi lautan, ironisnya, laut yang dulu membuat Rengkuh sadar bahwa bumi kita sedang sakit.
Menutup dengan Harapan: Sebuah Cerita Tentang Kembali ke Alam
Cerita Rengkuh Banyu Mahandaru adalah pengingat bahwa kemajuan tak selalu berarti meninggalkan yang alami. Kadang, untuk bergerak ke depan, kita justru harus menoleh ke belakang, mengingat bagaimana nenek moyang kita hidup berdampingan dengan alam tanpa merusaknya.
Jika ditarik garis lurus, perjalanan Rengkuh sebenarnya membentuk lingkaran yang indah: dari laut yang tercemar styrofoam, menuju tanah tempat tumbuhnya pohon pinang, lalu kembali lagi ke meja makan manusia dalam bentuk kemasan alami.
Semuanya terhubung. Dan di situlah letak keindahannya, karena perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran kecil. Dari rasa gelisah saat menyelam, dari selembar daun yang jatuh, dari pelepah yang dibiarkan kering di bawah matahari.
Plepah menjadi contoh nyata bahwa solusi masa depan bisa lahir dari kebijaksanaan masa lalu. Bahwa limbah bisa berubah jadi sumber rezeki. Bahwa perubahan tidak harus besar dan gegap gempita, cukup konsisten, jujur, dan berpihak pada bumi.
Mungkin kita tak bisa membersihkan seluruh laut dari styrofoam, tapi kita bisa mulai dari pilihan sederhana: menolak plastik sekali pakai, memilih kemasan alami, dan mendukung usaha seperti Plepah.
Karena pada akhirnya, bumi tidak butuh diselamatkan, yang butuh diselamatkan adalah cara kita memperlakukannya.
Tulisan ini pada akhirnya bukan hanya kisah tentang Rengkuh dan Plepah, tapi tentang perjalanan kita semua menuju gaya hidup yang lebih sadar, lebih hijau, dan lebih manusiawi. Sebuah cerita bahwa dari pelepah yang jatuh, kita bisa menumbuhkan harapan baru untuk bumi.
#APA2025-PLM

Dian Ravi. Muslimah travel blogger Indonesia. Jakarta. Part time blogger, full time day dreamer. Pink addict, but also love toska. See, even I cannot decide what’s my favorite color is.Mau bikin bahagia, cukup ajak jalan dan foto-foto.

