Ada kota yang cukup dikunjungi sekali, lalu selesai. Ada juga yang dua kali, habis itu rasanya ya… sudah.
Tapi Pacitan beda.
Tahun 2024 aku datang ke Pacitan memang dengan niat untuk eksplor. Aku sengaja nginep dua malam, pengin lihat sejauh apa kota ini bisa aku jelajahi. Pantai ke pantai, sungai, sudut-sudut sunyi yang katanya cantik. Tapi ternyata, dua malam pun belum cukup. Pulangnya aku malah sadar satu hal: kok daftar tempatnya masih panjang, ya?
Tahun 2025, aku balik lagi. Kali ini cuma mampir satu malam. Bukan liburan panjang, lebih ke menepati janji kecil ke diri sendiri, beberapa tempat di bucket list masih belum tersentuh. Aku datang dengan waktu yang lebih sempit, tapi rasa penasarannya masih sama besarnya.
Dan sampai sekarang pun, jujur saja, Pacitan masih belum selesai buatku.
Pacitan itu rasanya seperti buku tebal yang nggak bisa dibaca buru-buru. Setiap dibuka, selalu ada halaman baru: pantai dengan karakter berbeda, sungai yang tenang, goa yang bikin takjub, bukit untuk diam sebentar, dan ruang sunyi yang entah kenapa bikin betah. Dan setiap kali bukunya kututup, rasanya selalu sama, kayaknya masih ada yang belum kebaca deh.
Aku ke Pacitan bukan sekali. Dan bukan juga karena kunjungan sebelumnya kurang menyenangkan.Justru sebaliknya. Aku kembali karena Pacitan selalu memberi alasan baru untuk datang lagi, dan selalu menyisakan rasa: “nanti aku ke sini lagi.”
17 Rekomendasi Wisata Instagramable di Pacitan
Buat kamu yang lagi punya rencana ke Pacitan, entah liburan singkat, road trip, atau sekadar mampir, tapi masih bingung mau ke mana dulu, daftar ini bisa jadi pegangan awal. Ini bukan sekadar rekomendasi tempat wisata, tapi kumpulan cerita dari perjalanan yang sudah aku jalani (dan sebagian masih jadi rencana). Ada pantai, sungai, goa, sampai spot santai di tengah kota. Beberapa sudah aku datangi, beberapa masih jadi bucket list. Tapi semuanya punya satu kesamaan: bikin Pacitan terasa nggak pernah habis dijelajahi.
1. Pantai Klayar

Pantai Klayar sering disebut sebagai salah satu ikon wisata Pacitan, dan setelah datang langsung, aku paham kenapa. Pantai ini seperti gerbang pembuka yang kuat untuk mengenal karakter Pacitan: alamnya tegas, terbuka, dan tidak setengah-setengah. Di sinilah aku pertama kali benar-benar merasa bahwa Pacitan bukan kota wisata yang biasa-biasa saja.
Ombak di Pantai Klayar besar dan menghantam karang dengan suara yang terdengar jelas dari kejauhan. Bukan tipe pantai untuk berenang santai, tapi justru cocok untuk dinikmati dari kejauhan. Duduk di tepi pantai sambil memperhatikan ombak datang dan pergi, rasanya seperti diajak berhenti sejenak dari ritme yang terlalu cepat.
Daya tarik paling khas dari Pantai Klayar adalah batu karang besar yang sering disebut mirip sphinx. Bentuknya unik dan mudah dikenali, jadi hampir selalu muncul di foto-foto wisata Pacitan. Tak jauh dari situ, ada fenomena alam yang dikenal sebagai seruling laut, air laut yang menyembur keluar dari celah batu karang saat ombak datang, lalu menghasilkan suara panjang seperti siulan. Suara itu muncul alami, tanpa jadwal, tergantung kekuatan ombak, dan justru di situlah letak magisnya.
Fasilitas di Pantai Klayar sudah cukup lengkap. Area parkir luas, ada warung makan sederhana, serta jalur jalan kaki yang relatif mudah diakses. Pantai ini cocok dikunjungi pagi atau sore hari saat matahari tidak terlalu terik, sekaligus untuk menikmati suasana tanpa terburu-buru.
Pantai Klayar bukan tentang bermain air atau aktivitas ramai. Tempat ini lebih pas untuk melihat, mendengar, dan merasakan. Dan buatku pribadi, Pantai Klayar jadi pengingat bahwa keindahan alam tidak selalu harus jinak untuk bisa dinikmati.
Tiket masuk: sekitar Rp 20.000 per orang
2. Karang Bolong

Karang Bolong letaknya tidak jauh dari Pantai Klayar. Bahkan, banyak orang datang ke Klayar tanpa sadar kalau satu spot menarik ini jaraknya hanya beberapa menit saja. Dari area Pantai Klayar, aku naik ojek dengan tarif sekitar Rp50.000 per orang, menyusuri jalan kecil yang cukup menantang tapi justru menyuguhkan pemandangan alam khas Pacitan.
Sesuai namanya, Karang Bolong adalah tebing karang besar dengan lubang alami di bagian tengahnya. Dari lubang inilah laut terlihat seperti terbingkai, menciptakan sudut pandang yang unik dan berbeda dari pantai-pantai lain di Pacitan. Ombaknya besar dan menghantam karang tanpa henti, membuat suasananya terasa dramatis dan sedikit liar.
Karang Bolong bukan tipe tempat untuk berlama-lama atau bermain air. Lebih cocok untuk berhenti sejenak, menikmati pemandangan, lalu melanjutkan perjalanan. Tapi justru karena singkat itulah tempat ini terasa spesial, seperti bonus kecil yang muncul di tengah perjalanan.


Fasilitas di Karang Bolong masih sangat sederhana. Tidak ada warung atau tempat berteduh, jadi sebaiknya datang dalam kondisi siap dan tidak terlalu siang. Meski begitu, suasananya relatif sepi dan jauh dari keramaian, cocok buat yang ingin menikmati Pacitan dari sisi yang lebih sunyi.
Buatku, Karang Bolong adalah contoh kecil bagaimana Pacitan menyimpan banyak kejutan di jarak yang berdekatan. Kadang, cukup belok sebentar dari jalur utama, dan kita sudah menemukan pemandangan yang sama sekali berbeda.
Akses: ojek dari Pantai Klayar sekitar Rp 50.000/orang
3. Pantai Banyu Tibo

Pantai Banyu Tibo adalah salah satu tempat di Pacitan yang langsung memberi kesan “unik” sejak pertama kali dilihat. Tidak banyak pantai yang punya air terjun aktif tepat di tepi laut, dan disinilah letak keistimewaannya. Air terjun kecil itu jatuh langsung ke pasir pantai, seolah tanpa jarak, mempertemukan air tawar dan air laut dalam satu bingkai yang tenang.
Perjalanan menuju Pantai Banyu Tibo memang butuh sedikit usaha. Jalurnya cukup menurun dan berbatu, jadi perlu ekstra hati-hati, terutama saat musim hujan. Tapi justru di situlah rasanya lebih memuaskan. Begitu sampai di bawah, suara air terjun yang jatuh perlahan dan debur ombak yang tidak terlalu keras langsung menyambut.

Aku sempat duduk cukup lama di sini, tanpa agenda apa pun. Hanya memperhatikan aliran air yang jatuh, pasir yang basah, dan laut yang terbentang di depan mata. Suasananya tidak ramai, cenderung sunyi, dan terasa cocok untuk siapa pun yang ingin menikmati Pacitan dari sisi yang lebih pelan dan menenangkan.
Pantai Banyu Tibo bukan tempat untuk aktivitas berat atau keramaian. Ia lebih pas dikunjungi pagi hari atau menjelang sore, saat cahaya matahari lembut dan suasana belum terlalu panas. Datang ke sini rasanya seperti mengambil jeda kecil di tengah perjalanan.
Tiket masuk: sekitar Rp 10.000 per orang
4. Sungai Maron

Sungai Maron sering dijuluki sebagai Amazon-nya Pacitan. Awalnya terdengar berlebihan, tapi begitu menyusuri alirannya, julukan itu terasa cukup masuk akal. Sungai ini menawarkan pengalaman yang berbeda dari pantai-pantai Pacitan, lebih teduh, lebih pelan, dan jauh dari suara ombak yang keras.
Menyusuri Sungai Maron biasanya dilakukan dengan perahu kecil. Sepanjang perjalanan, pandangan dipenuhi pepohonan hijau yang rapat di kanan dan kiri sungai. Airnya cenderung tenang, sehingga perahu bergerak perlahan tanpa tergesa. Suasana seperti ini membuat pikiran otomatis ikut melambat, seolah diajak berhenti sejenak dari ritme perjalanan yang padat.

Aku datang ke Sungai Maron tanpa ekspektasi berlebihan, tapi justru di sinilah aku merasa benar-benar menikmati momen. Tidak ada aktivitas yang harus dilakukan, tidak ada spot foto yang harus dikejar. Cukup duduk, memperhatikan pantulan cahaya di air, dan membiarkan perjalanan berjalan dengan sendirinya. Tempat ini tipe yang bikin lupa waktu, dan, tanpa sadar, lupa membuka notifikasi ponsel.
Sungai Maron cocok dikunjungi pagi atau siang hari saat cahaya matahari masih lembut dan suasana belum terlalu ramai. Ini adalah pilihan tepat buat yang ingin menyeimbangkan perjalanan ke Pacitan: setelah pantai-pantai dengan ombak besar, Sungai Maron menawarkan sisi yang lebih tenang dan menenangkan.
Tiket perahu: sekitar Rp100.000 per perahu
5. Pantai Watu Karung


Pantai Watu Karung dikenal luas sebagai salah satu spot surfing kelas dunia. Ombaknya besar, konsisten, dan menjadi incaran peselancar dari berbagai negara. Namun meski punya reputasi internasional, suasana pantai ini justru terasa tenang dan tidak ramai, jauh dari hiruk-pikuk destinasi wisata populer.
Saat datang ke Watu Karung, aku tidak datang sebagai peselancar. Aku datang sebagai pengamat. Duduk di tepi pantai, melihat ombak datang silih berganti, rasanya sudah lebih dari cukup. Tidak banyak fasilitas wisata di sekitar pantai, dan justru itulah yang membuat tempat ini terasa istimewa. Alamnya masih terasa mentah, tidak terlalu disentuh, dan dibiarkan apa adanya.
Pantai Watu Karung cocok dikunjungi oleh siapa pun yang ingin menikmati sisi Pacitan yang lebih sunyi dan kuat. Tempat ini bukan soal aktivitas, tapi soal suasana. Datanglah dengan waktu yang longgar, agar bisa benar-benar menikmati pantai tanpa tergesa.
Salah satu alasan lain kenapa Watu Karung terasa nyaman untuk disinggahi adalah pilihan penginapannya yang cukup banyak dan beragam. Di sekitar pantai tersedia homestay, losmen sederhana, hingga penginapan yang sering dipilih peselancar. Lokasinya dekat pantai, suasananya tenang, dan beberapa di antaranya langsung menghadap laut.Aku sendiri dua kali ke Pacitan memilih menginap di kawasan Watu Karung. Bukan tanpa alasan. Dari sini, akses ke pantai-pantai lain relatif mudah, suasananya lebih sepi dibanding pusat kota, dan malam harinya terasa benar-benar hening. Buatku, menginap di Watu Karung memberi pengalaman Pacitan yang lebih utuh, bangun dengan suara laut, tidur tanpa bising, dan menjalani hari tanpa tergesa.
Tiket masuk: Rp10.000 per orang
6. Pantai Kasap

Pantai Kasap sering mendapat julukan Raja Ampat-nya Jawa Timur. Julukan ini muncul bukan tanpa alasan. Dari atas bukit kecil di kawasan pantai, terlihat gugusan pulau-pulau karang yang tersebar di tengah laut biru, menciptakan pemandangan yang langsung membuat siapa pun terdiam sejenak.

Untuk menikmati panorama terbaik Pantai Kasap, pengunjung perlu naik sedikit ke area gardu pandang. Jalurnya tidak terlalu sulit dan bisa ditempuh dengan santai. Begitu sampai di atas, hamparan laut dengan pulau-pulau kecil di kejauhan terlihat begitu jelas dan terbuka. Ini salah satu spot yang menurutku lebih nikmat dinikmati langsung daripada hanya lewat kamera.
Pantai Kasap cocok dikunjungi pagi atau sore hari, saat cahaya matahari lembut dan warna laut terlihat lebih kontras. Tempat ini pas untuk berhenti sejenak, menikmati pemandangan, lalu melanjutkan perjalanan ke destinasi lain di Pacitan.
Tiket masuk: sekitar Rp 7.000 per orang
7. Kali Cokel

Kali Cokel berada di kawasan muara, sehingga airnya cenderung tenang dan tidak berombak besar. Kondisi ini membuatnya cocok untuk bermain air dengan lebih aman, termasuk untuk anak-anak atau pengunjung yang ingin menikmati suasana air tanpa khawatir arus laut. Tapi jangan salah, di balik ketenangan itu, Kali Cokel selalu menyimpan kejutan kecil yang bikin perjalanan terasa hidup.

Salah satu pengalaman paling berkesan buatku adalah ketika menyusuri sungai dengan perahu. Tiba-tiba, perahu yang tadinya bergerak pelan di muara perlahan meluncur ke laut lepas. Sensasinya campur aduk: aman karena didampingi pemandu lokal, tapi juga ada rasa thrill saat tiba-tiba berada di tengah laut dengan debur ombak yang lebih nyata. Momen ini bikin Kali Cokel terasa lebih dari sekadar tempat wisata biasa, ada unsur spontan yang membuatnya unik.
Tempat ini tidak menawarkan atraksi besar atau pemandangan dramatis seperti pantai-pantai lain di Pacitan. Justru kesederhanaannya yang menjadi daya tarik utama. Lingkungannya bersih, suasananya ramah, dan ada rasa nyaman yang jarang ditemui di tempat lain. Kali Cokel adalah tempat untuk berhenti sejenak, melepas lelah, atau duduk sambil menikmati udara segar, tanpa agenda apa pun.Ini juga termasuk wisata favoritku di Pacitan, karena setiap kunjungan selalu memberi pengalaman berbeda. Bisa jadi hanya duduk santai di tepi sungai, atau tiba-tiba ikut perahu menyusuri muara hingga ke laut lepas, dan setiap momen selalu terasa menyenangkan.
Kali Cokel paling pas dikunjungi pagi hari ketika matahari belum terlalu terang, atau sore menjelang senja saat cuaca lebih sejuk dan cahaya lembut.
Tiket masuk: sekitar Rp25.000 per orang
8. Pantai Srau

Pantai Srau memiliki keunikan yang jarang ditemui di satu kawasan pantai. Dalam satu area, terdapat tiga bagian pantai dengan karakter yang berbeda-beda. Ada bagian dengan ombak besar yang menghantam karang, ada area yang lebih tenang, dan ada pula spot yang cocok untuk duduk lama tanpa tujuan apa pun.

Karena variasinya ini, Pantai Srau terasa fleksibel. Datang ke sini bisa disesuaikan dengan suasana hati. Ingin menikmati debur ombak yang kuat, bisa. Ingin mencari sudut yang lebih tenang untuk menikmati pemandangan, juga bisa. Setiap bagian pantai memberi pengalaman yang berbeda meski masih berada dalam satu kawasan.
Pantai Srau cocok dikunjungi pagi atau sore hari, saat matahari tidak terlalu terik dan suasana belum terlalu ramai. Tempat ini memberi pilihan tanpa harus berpindah lokasi terlalu jauh, menjadikannya salah satu pantai yang cukup lengkap di Pacitan.
Tiket masuk: sekitar Rp10.000 per orang
9. Pantai Telengria

Pantai Telengria merupakan pantai yang paling mudah dijangkau karena lokasinya dekat dengan pusat Kota Pacitan. Akses jalannya baik, fasilitasnya cukup lengkap, dan suasananya selalu hidup. Di sini, pantai bukan hanya tempat wisata, tapi juga ruang berkumpul warga lokal.
Saat berkunjung ke Telengria, suasananya terasa ramai tapi tetap hangat. Banyak keluarga yang datang bersama anak-anak, pedagang yang menjajakan makanan ringan, serta pengunjung yang sekadar berjalan santai menikmati udara laut. Pantai ini juga menjadi salah satu spot favorit untuk menikmati matahari terbenam.
Telengria bukan pantai dengan lanskap paling dramatis di Pacitan. Namun justru karena kesederhanaan dan keramahannya, pantai ini terasa bersahabat dan mudah dinikmati oleh siapa saja. Cocok untuk kunjungan singkat atau penutup hari setelah menjelajahi pantai-pantai lain.
Tiket masuk: sekitar Rp 10.000 per orang
10. Alun-Alun Pacitan

Di antara semua pantai dan destinasi alam di Pacitan, Alun-Alun Pacitan menjadi tempat yang tepat untuk berhenti sejenak dan melihat sisi kota. Di sini aku melihat Pacitan bukan hanya sebagai destinasi wisata, tapi sebagai kota yang hidup dengan ritme sendiri.
Ada jajanan tradisional yang mengundang selera, anak-anak bermain riang, dan warga lokal yang menikmati sore tanpa terburu-buru. Duduk di bangku sambil melihat aktivitas ini, rasanya seperti mendapatkan jeda tenang di tengah perjalanan. Alun-alun juga menjadi tempat yang bagus untuk mencicipi kuliner ringan khas Pacitan, dari jajanan manis hingga gorengan hangat.
Alun-Alun Pacitan cocok untuk semua pengunjung, terutama yang ingin menikmati suasana lokal atau sekadar menenangkan diri sebelum melanjutkan perjalanan.
Tiket masuk: gratis
11. Bahari Sky View

Bahari Sky View menawarkan perspektif yang berbeda. Dari ketinggian, aku bisa melihat bentang alam Pacitan secara utuh: laut, bukit, dan garis pantai yang panjang. Pemandangan ini bikin aku paham kenapa dua tahun berturut-turut aku kembali ke Pacitan, tapi tetap merasa belum selesai menjelajah.
Selain pemandangannya, yang membuat tempat ini spesial adalah deretan kuliner pinggir jalan di sekitarnya. Setelah puas mengambil foto atau sekadar duduk menikmati udara segar, aku sering mampir ke warung kecil yang menjual aneka camilan dan minuman lokal, dari jagung bakar, pentol, sampai es kelapa muda. Makan sambil menikmati panorama Pacitan dari atas memberi pengalaman berbeda dibanding sekadar makan di kafe biasa.
Bahari Sky View cocok untuk sore hari, saat cahaya matahari mulai lembut, dan suasana tidak terlalu panas. Bisa dijadikan spot santai setelah menjelajah pantai-pantai Pacitan.
Tiket masuk: gratis
12. Pantai Soge
Pantai Soge sering dilewati saat perjalanan lintas Pacitan–Trenggalek. Jangan cuma lewat, karena pantai ini punya daya tarik sendiri. Garis pantainya panjang, dan ada jembatan ikonik yang sering menjadi latar foto menarik.
Aku biasanya berhenti sebentar untuk menatap laut dan menghela napas panjang. Tempat ini cocok untuk sekadar melepaskan penat atau mengambil foto panorama. Pantai Soge mudah dijangkau dari jalan utama, jadi ideal untuk singgah cepat tanpa harus menyita banyak waktu.
Tiket masuk: sekitar Rp 10.000 per orang
13. Pantai Taman

Pantai Taman mungkin tidak punya banyak spot foto atau fasilitas mewah, tapi justru itulah pesonanya. Suasana di sini tenang, jauh dari keramaian, dan cocok bagi siapa pun yang ingin menikmati pantai tanpa distraksi.
Aku sering datang ke Pantai Taman untuk duduk sebentar, mendengar deburan ombak, dan menikmati momen sendiri. Kadang, momen-momen seperti ini lebih berkesan daripada sekadar mengejar foto atau aktivitas wisata ramai. Pantai Taman mengajarkan bahwa keindahan tidak selalu harus dramatis, kadang yang sederhana justru yang paling menenangkan.
Tiket masuk: sekitar Rp 10.000 per orang
14. Goa Gong
Aku belum sempat ke Goa Gong, tapi tempat ini selalu masuk daftar kunjungan wajib di Pacitan. Goa Gong terkenal dengan stalaktit dan stalagmitnya yang megah, sehingga sering disebut sebagai salah satu goa terindah di Asia Tenggara. Dari cerita orang-orang yang sudah pernah ke sana, formasi batuannya seperti istana alami di bawah tanah, penuh detail yang menakjubkan.
Meskipun aku belum melihatnya langsung, Goa Gong tetap memberi rasa penasaran setiap kali membicarakan Pacitan. Rasanya seperti menyimpan janji: suatu saat aku akan datang, menyalakan lampu di tangan, dan menjelajahi keajaiban di dalamnya.
Tiket masuk Goa Gong: sekitar Rp20.000 per orang
15. Pantai Ngiriboyo
Pantai Ngiriboyo masih ada di bucket list-ku. Belum sempat aku datangi, tapi justru itu yang membuat Pacitan selalu punya alasan untuk dikunjungi lagi. Dari peta dan cerita teman, pantai ini memiliki garis pantai yang tenang, pasir bersih, dan pemandangan alam yang masih alami. Ngiriboyo memberi sensasi menunggu, tidak mengecewakan, tapi membuat setiap perjalanan ke Pacitan terasa seperti petualangan yang belum lengkap. Sama seperti Goa Gong, pantai ini menunggu aku untuk kembali, menyusuri pasirnya, dan menikmati debur ombak yang lembut.
Tiket masuk: sekitar Rp10.000 per orang
16. Pantai Pangasan
Pantai Pangasan sering diceritakan oleh penduduk lokal dan wisatawan sebagai pantai yang dramatis, alami, dan relatif sepi. Sampai sekarang aku belum ke sana, tapi mendengar cerita tentang ombak, tebing, dan pemandangannya membuat aku percaya: ini bukan pantai biasa.
Aku menyimpan Pantai Pangasan sebagai janji pribadi, sebuah alasan untuk kembali ke Pacitan suatu hari nanti. Sama seperti Goa Gong dan Ngiriboyo, Pangasan memberi sensasi “Pacitan tidak pernah habis dijelajahi”.
Tiket masuk: sekitar Rp 10.000 per orang
17. Museum SBY
Selain wisata alam, Pacitan juga punya sisi sejarah dan budaya yang menarik. Museum SBY menampilkan perjalanan hidup Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, mulai dari masa kecil di Pacitan hingga karier politiknya.Di museum ini, pengunjung bisa melihat koleksi pribadi, foto-foto, dokumen penting, serta berbagai memorabilia yang menceritakan perjalanan hidup beliau. Museum ini cocok dikunjungi bagi siapa pun yang ingin memahami lebih dalam tentang tokoh nasional sekaligus merasakan kebanggaan lokal warga Pacitan.
Tiket masuk: sekitar Rp 25.000 per orang
Wisata Pacitan Tidak Pernah Habis
Dua tahun berturut-turut aku ke Pacitan, dan masih saja ada tempat yang belum kudatangi. Mungkin memang Pacitan bukan soal checklist, tapi soal rasa ingin kembali. Tentang kota kecil yang diam-diam besar. Tentang wisata yang tidak pernah benar-benar selesai. Dan tentang perjalanan yang selalu menyisakan rindu.
Kalau kamu mencari tempat untuk pelan-pelan, Pacitan tidak akan menolakmu. Ia hanya akan berkata: “Datanglah lagi. Aku masih banyak cerita.”
Aku ingin tahu nih, dari semua destinasi yang aku ceritakan di atas, mana yang paling bikin kamu penasaran? Atau mungkin kamu sudah pernah ke Pacitan, tempat mana yang paling berkesan menurutmu? Tinggalkan komentarmu di bawah, aku senang membaca pengalamanmu juga!

Dian Ravi. Muslimah travel blogger Indonesia. Jakarta. Part time blogger, full time day dreamer. Pink addict, but also love toska. See, even I cannot decide what’s my favorite color is.Mau bikin bahagia, cukup ajak jalan dan foto-foto.

