Februari 2024, akhirnya aku memenuhi rasa penasaran yang sudah lama numpuk: menginap di Hotel Hunting Hi & Low Batukaras. Perjalanan ini adalah bagian dari roadtrip panjangku menyusuri jalur selatan Pulau Jawa sampai Bondowoso. Dari Tasik, aku mulai turun ke arah selatan, melewati jalan-jalan yang diteduhi pepohonan besar, udara yang makin lembab, dan samar-samar aroma laut yang nyangkut di angin. Rasanya kayak tubuh dikasih tahu kalau aku sedang menuju sesuatu yang tenang.

Sebelum benar-benar masuk ke Batukaras, aku sempat belok ke Pantai Madasari. Pantai yang sunyi, dengan ombak besar dan karang-karang kokoh yang bikin pemandangan dramatis. Aku duduk sebentar, cuma dengerin debur ombak sambil memandang horizon. Momen kecil kayak gitu rasanya jadi reminder kalau perjalanan bukan soal cepat sampai, tapi menikmati berhenti di tengah-tengahnya.
Setelah puas, aku lanjut ke Batukaras. Di satu sisi excited, tapi ada sedikit rasa deg-degan yang ngganjel… dan itu muncul gara-gara drama kecil sebelum check-in.
Drama Booking: Slow Response dan Was-Was di Jalan

Aku booking kamar via WhatsApp. Sederhana, harusnya cepat. Tapi adminnya benar-benar slow respons. Sampai aku sudah di jalan menuju Batukaras pun, pertanyaanku soal cara pembayaran masih nggak dijawab. Mulai muncul pikiran-pikiran jelek:
“Gimana kalau bookinganku nggak dicatat? Gimana kalau sampai sana malah nggak ada kamar?”
Dan seperti skenario yang paling aku takuti… sesampainya di penginapan, namaku memang belum masuk dalam daftar reservasi. Rasanya tuh campuran panik, jengkel, tapi juga pasrah karena perjalanan sudah terlalu jauh buat putar balik.
Syukurnya, ada rezeki anak soleh, kamar yang aku pesan masih tersedia. Begitu kuncinya akhirnya dikasih, rasanya plong banget. Drama kecil ini mungkin bisa jadi catatan besar buat pihak penginapan, tapi karena semuanya berakhir baik, aku anggap ini bumbu perjalanan yang bikin cerita makin hidup.
First Impression Hotel Hunting Hi & Low Batukaras: Vibes yang Bikin Nyantol Seketika

Begitu pintu kamar H-3 dibuka, ada sensasi yang susah dijelaskan: semacam rasa nyaman yang muncul tiba-tiba, kayak tubuh langsung bilang, “Ah… ini tempat yang benar.” Ruangan itu tidak besar, tapi sangat well-designed. Ada mezzanine mungil tempat kasur utama berada, sentuhan kecil yang membuat kamarnya terasa playful dan berbeda dari penginapan biasa. Mezzanine-nya tidak terlalu tinggi, tapi cukup untuk menghadirkan suasana “kabin kecil” yang hangat. Sementara itu, kasur tambahan di lantai bawah membuat ruangan ini fleksibel untuk 2–3 orang, tanpa terasa sempit atau penuh.

Tapi daya tarik utama kamar buat aku ini bukan hanya mezzanine-nya. Bukan pula living room kecil, atau pilihan warna yang lembut. Yang benar-benar berhasil mencuri hatiku adalah teras belakang, ruang semi-terbuka yang memadukan unsur alam, estetika, dan ketenangan dalam satu bingkai.

Terasnya berlantai tegel hijau lembut, warna yang langsung mengingatkanku pada bangunan era mid-century yang sering muncul di majalah desain interior klasik. Tegel ini memantulkan cahaya matahari dengan cara yang menenangkan, tidak terlalu silau, tidak terlalu kusam. Di sudut-sudutnya ada pot tanaman tropis yang tumbuh rapi, memberikan sentuhan hidup pada ruang yang didominasi material kasar seperti dinding semen ekspos.
Dan saat aku membaca lebih jauh soal konsep bangunan Hunting Hi & Low, semuanya jadi masuk akal.

Ternyata, seluruh bangunan memang dirancang dengan pendekatan mid-century, di mana unsur kesederhanaan, garis-garis tegas, dan integrasi dengan alam menjadi pusatnya. Atap hijau gelap, dinding semen yang dibiarkan apa adanya, bahkan tegel putih kotak-kotak yang dipakai di dapur… semua itu adalah elemen khas yang tampak sengaja dipertahankan di setiap kamar: dari kamar 1 sampai kamar 5.


Yang membuatnya lebih menarik adalah bagaimana konsep ini tidak sekadar diciptakan demi estetika, tapi juga demi pengalaman.
Daripada membangun penginapan yang “hotel banget,” konsep yang dipakai di Hunting Hi & Low justru mengarah ke surf shack, sebuah kabin artisanal yang compact, sederhana, dan menyatu dengan gaya hidup peselancar. Ruang tidur, ruang tamu, dapur, dan area santai dibuat berada dalam satu kesatuan ruang yang minimalis tapi fungsional. Ini menciptakan atmosfer hippie yang nyaman: tidak mewah, tapi punya jiwa.

Dan jujur, aku merasakannya sendiri. Duduk di teras belakang, dengan kursi kecil dan meja bundar sederhana, rasanya seperti memasuki ruang waktu yang lebih lambat. Suara angin dari arah laut masuk pelan-pelan melalui celah bangunan. Cahaya matahari jatuh lembut di permukaan tegel hijau yang dingin.
Beberapa detik kemudian aku sadar: tempat ini bukan “sekadar penginapan”, ini adalah mood. Ini adalah suasana hati. Ini adalah ruang kecil yang mengembalikan kesederhanaan dan kelegaan ke dalam kepala.

Aku duduk lama di teras itu, sambil menikmati kopi dari Kokyo Coffee yang letaknya cuma beberapa langkah dari sini, kebetulan kedai kopi favoritku di kawasan Pangandaran. Seringkali aku tidak melakukan apa-apa: tidak membaca, tidak bekerja, tidak memegang ponsel. Hanya duduk, minum, melihat cahaya, mendengar suara daun yang tersentuh angin.
Makin lama aku tinggal, makin terasa bahwa ruang ini memang dibuat untuk orang-orang yang menghargai detail kecil.
Detail seperti tangga kayu sederhana yang disandarkan di dekat jendela, seolah mengajakmu untuk memanjat ke mezzanine atau sekadar jadi elemen dekorasi yang estetik tanpa berusaha keras.Detail seperti perpaduan pintu geser yang membuat batas antara ruang dalam dan luar terasa cair.Detail seperti ruang tamu kecil yang tampak apa adanya, namun menyatu dengan konsep rumah pantai yang santai.
Tidak ada kemewahan mahal, tapi semuanya terasa “tepat.” Bahkan kesederhanaannya terasa disengaja, sebuah “ketidaksempurnaan yang sempurna,” kalau boleh dibilang begitu.
Waktu sore di teras itulah yang akhirnya menyimpulkan seluruh pengalaman menginapku. Bahwa Hunting Hi & Low bukan penginapan yang menawarkan ranjang empuk saja, atau Netflix dan WiFi cepat saja. Tempat ini menawarkan ruang. Ruang untuk bernapas, ruang untuk melambat, ruang untuk merasa pulang ke rumah yang belum pernah kita tinggali sebelumnya.
Fasilitas: Sederhana, Tapi Bikin Betah Lama-Lama
Kalau ngomongin fasilitas, Hunting Hi & Low sebenarnya nggak menawarkan hal-hal super wah. Tapi justru karena kesederhanaannya itu terasa paling tulus dan bikin pengalaman stay jadi hangat. Beberapa detail kecil bahkan jadi highlight buatku.
WiFi Kencang

Aku sempat kerja remote dari kamar, tapi bukan di meja atau teras, aku nulis artikel dari kasur di mezzanine sambil menikmati tayangan Netflix yang posisinya tepat di seberang kasur. TV-nya dipasang di atas pintu teras, jadi dari tempat tidur tinggal rebahan pun tetap nyaman buat kerja sambil nyimak tontonan. WiFi-nya stabil, nggak ada drama loading meski aku buka banyak tab sekaligus. Buat digital nomad, freelancer, atau siapa pun yang suka kerja dengan posisi senyaman mungkin, tempat ini ramah banget.
Netflix Ready
Karena cuma menginap satu malam, aku dan suami memutuskan untuk benar-benar menikmati waktu istirahat sebelum besok melanjutkan perjalanan. Dan having Netflix in-room itu rasanya kayak bonus manis. Dengan cahaya warm yang bikin kamar terasa hangat dan intim, kami rebahan di kasur mezzanine sambil memilih film untuk ditonton bareng. Suasananya sederhana, tapi justru itu yang bikin momen malam itu terasa personal, kayak punya mini home theatre versi kami sendiri, sebelum kembali menghadapi hari berikutnya.
Handuk & Amenities Lengkap

Detail yang sederhana tapi penting. Handuk bersih dan wangi, sabun, perlengkapan mandi, semuanya tersedia. Hal kayak gini bikin perjalanan lebih ringan karena nggak perlu bawa banyak barang.
Teras Belakang: Hidden Gem

Menurutku, teras belakang ini adalah jantung kenyamanan Hunting Hi & Low. Spot kecil yang sederhana, tapi vibes-nya luar biasa bikin betah. Begitu pintu geser dibuka, kamu langsung disambut area lantai hijau mint yang bersih dan adem dilihat. Warna tegelnya memberi sentuhan retro yang manis, kontras dengan dinding semen ekspos yang dibiarkan apa adanya. Di salah satu sudut ada tanaman tinggi dalam pot hijau, persis seperti aksen khas rumah-rumah mid-century: minimalis, natural, dan tidak berusaha terlihat “rapi berlebihan”.
Di tengah teras cuma ada meja kecil bulat, tapi justru itu yang bikin ruang ini terasa lapang dan tenang. Aku duduk di sana, ditemani cahaya matahari sore yang jatuh dari atas dan memantul halus di permukaan lantai. Angin sepoi-sepoi masuk lewat celah-celah, bikin suasana makin rileks. Suara burung dari kejauhan jadi latar alami yang menenangkan.Yang lucu, aku awalnya niat kerja di sini sebentar. Tapi akhirnya malah lebih banyak bengong, menikmati udara dan diam yang menyenangkan. Dan jujur, itu bukan sesuatu yang perlu disesali. Ada kalanya ruang yang paling berharga adalah ruang yang membuatmu berhenti sejenak.
Dari sisi estetika? Teras ini Instagrammable banget. Dinding bergaris, lantai hijau, pot tanaman tinggi, dan pencahayaan alami bikin nyaris semua sudut cocok untuk foto. Bahkan ladder kayu yang disandarkan di dekat pintu pun jadi elemen visual yang manis, kayak properti yang sengaja ditaruh untuk memperindah frame.
Sederhana, tapi memorable. Itulah kekuatan teras kecil ini.
Satu-satunya minus dari fasilitas adalah tidak adanya sarapan. Tapi karena lokasi penginapan dikelilingi banyak pilihan kuliner, kekurangan ini akhirnya terasa seperti ajakan buat eksplor Batukaras lebih dalam.
Rate Menginap di Hunting Hi & Low Batukaras: Worth It atau Nggak?

Untuk weekday, harga kamar yang aku tempati, Kamar No. 3, ada di angka Rp 590.000 per malam. Di awal, aku sempat merasa harganya sedikit pricy, apalagi tanpa sarapan. Tapi setelah merasakan langsung suasana kamarnya, desain thoughtful ala surf shack, kenyamanan mezzanine, hingga teras belakang yang bikin betah lama-lama duduk tanpa alasan, persepsi itu berubah. Buatku, ini bukan sekadar tempat tidur, tapi pengalaman stay yang punya cerita.
Biar lebih jelas, ini daftar harga lengkap Hunting Hi & Low:
- Kamar No. 1 Rp 690.000 per malam. Tipe kamar ini cocok buat pasangan atau traveler yang ingin space sedikit lebih lega.
- Kamar No. 2, 3, dan 4 Rp 590.000 per malam. Termasuk kamar yang aku tempati, compact, hangat, dan pas untuk 2–3 orang.
- Kamar No. 5 Rp 790.000 per malam. Yang paling spacious dan bisa menampung hingga empat orang, lengkap dengan area dapur kecil.
Kalau melihat keseluruhan value, desain estetik, atmosfer tenang, fasilitas lengkap mulai dari WiFi stabil sampai Netflix-ready, serta spot teras belakang yang juara, harga segini menurutku masih masuk akal. Bahkan, buat tipe traveler yang lebih menghargai pengalaman, ambience, dan kenyamanan visual daripada sekadar sarapan gratis, tempat ini terasa worth the splurge.
Apalagi buat kamu yang butuh tempat untuk recharge, kerja kreatif, atau sekadar menghabiskan quality time sebelum melanjutkan perjalanan, Hunting Hi & Low memberi lebih dari apa yang ditawarkan di daftar fasilitasnya.
Lingkungan Sekitar: Surf Town yang Chill Abis

Batukaras itu tipenya tempat yang nggak berusaha keras untuk memikat hati, tapi justru karena itulah dia bikin jatuh cinta. Dari dulu kawasan ini dikenal sebagai surf town versi lembut: lebih tenang dibanding Pangandaran, lebih kecil, lebih intim, dan punya ritme hidup yang pelan. Di sini, waktu rasanya berjalan santai, seperti nggak ada yang terburu-buru. Dan Hunting Hi & Low berada tepat di tengah atmosfer itu.
Dari penginapan ke pantai jaraknya dekat banget. Buat para surfer, ini udah seperti punya basecamp pribadi: pagi tinggal jalan kaki sambil nyeret papan, sore tinggal kembali buat bilas dan rebahan. Tapi bahkan kalau kamu bukan surfer, area sekitar tetap menyenangkan. Cuma dengan berjalan kaki, kamu bisa menemukan banyak warung, kafe, dan spot nongkrong yang punya karakter masing-masing.
Jujur, satu hal yang aku sesali adalah… aku cuma menginap satu malam. Padahal setelah sampai dan merasakan suasana Batukaras, aku langsung sadar tempat ini layak dinikmati lebih lama. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan, kayak ruang untuk bernapas lebih dalam, untuk benar-benar diam, untuk sekadar berjalan tanpa tujuan.
Waktu cari makan malam, aku dan suami sempat lewat beberapa kafe yang lagi hype, termasuk Le Pari yang atmosfernya hangat dan ramai. Tapi entah kenapa, kami justru tergoda suasana sederhana warung dekat pantai. Lampu kuning temaram, suara ombak yang samar-samar kedengaran dari kejauhan, dan aroma masakan rumahan yang menguar dari dapurnya bikin pilihan itu terasa tepat. Rasanya hangat, lokal, dan jujur, jenis pengalaman yang nggak selalu bisa dibeli di tempat wisata lain.
Besok paginya, tanpa perlu mikir lama, kami sarapan di warung yang sama. Ada sesuatu tentang tempat itu yang bikin kami ingin kembali: mungkin karena suasananya yang ramah, mungkin karena makanannya yang nikmat, atau mungkin karena pagi di Batukaras memang punya daya tarik sendiri, hawa sejuk, cahaya matahari lembut, dan masyarakat yang berjalan santai ke sana-sini.
Sambil jalan kaki pulang ke penginapan, aku sempat kebayang: “Kayaknya asik banget kalau keliling Batukaras naik sepeda.” Jalannya kecil-kecil, rindang, dan tenang. Tipe tempat yang ideal buat gowes sambil menikmati angin pantai, mampir ke kafe, atau bahkan berhenti sesuka hati kalau menemukan spot lucu buat foto. Sayang banget aku nggak punya cukup waktu untuk mencobanya. Rasanya next time aku harus balik lagi minimal dua malam, biar bisa benar-benar menikmati ritme hidup Batukaras yang chill abis.
Batukaras bukan sekadar destinasi, tapi suasana. Dan vibe itulah yang bikin aku pengen balik lagi.
Hunting Hi & Low Batukaras Cocok Buat Siapa?

Setiap penginapan punya jiwa yang berbeda, dan Hunting Hi & Low termasuk yang fleksibel tapi tetap punya karakter. Dari pengalamanku, ini tipe stay yang cocok untuk banyak jenis traveler.
1. Work From Anywhere Enthusiast
Kalau kamu perlu kabur dari kota tapi tetap harus kerja, ini tempat yang aman. WiFi stabil, kamar tenang, pencahayaan pas, ada teras belakang yang natural-chic buat kerja. Produktivitas naik, stres turun.
2. Pasangan
Bukan tipe honeymoon resort, tapi justru itu yang bikin romantis. Terasnya hangat, suasananya intim, dan malam-malam di Batukaras punya keheningan yang manis. Romantis versi sederhana.
3. Traveler Solo
Kalau kamu butuh ruang untuk mikir, nulis, membaca, atau cuma ingin quiet time, Hunting Hi & Low ngasih atmosfer yang pas. Terasnya bisa jadi tempat refleksi pribadi yang nyaman.
4. Peselancar
Ombak Batukaras ramah untuk semua level surfer. Hunting Hi & Low adalah tempat ideal buat balik setelah seharian main ombak, mandi, rebahan, Netflix, selesai.
5. Traveler Rame-Rame / Grup Kecil
Banyak yang belum tahu kalau ada tipe kamar yang muat sampai empat orang dan dilengkapi dapur. Buat roadtrip bareng teman, liburan keluarga kecil, atau staycation versi komunal, ini menyenangkan. Ada sensasi hangat: masak mie tengah malam, ngopi bareng sambil nyusun itinerary, nonton film rame-rame. Jarang banget ada penginapan di pesisir dengan fleksibilitas kayak gini.
Hunting Hi & Low Batukaras Worth to Try untuk Pengalaman Santai di Batukaras

Secara keseluruhan, aku bisa bilang pengalaman stay di Hunting Hi & Low Batukaras itu positif dan menyenangkan. Memang ada drama kecil soal booking di awal, yang bikin deg-degan selama perjalanan dari Tasik ke Batukaras, tapi setelah check-in, semuanya berjalan mulus. Suasananya hangat, desainnya thoughtful, dan vibe-nya pas banget: tenang tanpa membosankan, estetik tanpa berlebihan, dan cukup nyaman untuk bikin kamu lupa waktu.
Tempat ini bukan sekadar tempat tidur dan mandi. Dia punya karakter. Punya cara halus untuk membuat kamu betah, produktif, bahkan lebih mindful. Dari mezzanine yang playful, teras belakang yang bikin hati adem, sampai suasana sekitar Batukaras yang chill dan bersahabat, semuanya bersinergi dengan indah.
Kalau ada yang nanya, “Bakal balik lagi nggak?”
Jawabanku: iya, tentu. Tapi dengan satu catatan, aku bakal lebih tegas soal konfirmasi booking, biar kejadian kemarin nggak terulang. Karena serius, sekali kamu duduk di teras belakang sambil nyeruput kopi, melihat cahaya sore menyentuh daun-daun, rasanya kayak dunia melambat… dan kamu jadi nggak pengen cepat-cepat pulang.
Kalau kamu suka penginapan yang punya cerita, punya karisma, dan bukan sekadar tempat tidur, Hunting Hi & Low Batukaras wajib masuk wishlist kamu.
Dan kalau kamu pernah menginap di sini juga, share dong pengalaman kamu di kolom komentar! Siapa tahu cerita kamu bisa bantu traveler lain yang lagi hunting penginapan di Batukaras.
Atau kalau belum pernah, mungkin ini saatnya kamu cobain stay di sini sendiri. Siapa tahu… kamu juga jatuh cinta.
x.o.x.o
Hunting Hi & Low Batukaras
Jl. Pantai Indah, Batukaras, Kec. Cijulang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat
Instagram: @HuntingHiandLoBatukaras

Dian Ravi. Muslimah travel blogger Indonesia. Jakarta. Part time blogger, full time day dreamer. Pink addict, but also love toska. See, even I cannot decide what’s my favorite color is.Mau bikin bahagia, cukup ajak jalan dan foto-foto.


