Jalan-Jalan, Jawa Timur

Mendaki Ijen, Mengedit Konten: Cerita Travel Blogger Mengatasi Mata Kering

Banyak orang membayangkan kehidupan seorang travel blogger dan content creator itu seindah pameran foto di media sosial. Pagi hari menikmati kopi di tempat eksotis, siang menjelajah pemandangan alam yang memanjakan mata, dan malamnya tidur nyenyak di penginapan estetis.

​Namun, di balik satu unggahan foto ciamik atau video reels berdurasi 30 detik yang disukai ribuan orang, ada realita pekerjaan yang tak selalu romantis: liburan ya enggak bener-bener liburan, tetap kerja.

​Di mana pun aku berada, mau itu di kedai kopi tengah kota yang bising atau di lereng gunung berkabut yang sepi, laptop dan smartphone selalu setia menemani. Mengetik draft artikel panjang untuk blog, memilah ratusan berkas foto mentah, sampai melototi garis waktu saat video editing adalah ritual wajib yang tidak bisa ditawar.

​Dari seluruh risiko pekerjaan serba digital ini, ada satu organ tubuh yang paling sering bekerja tanpa henti dan hampir lupa diberi perhatian: mata.

Pendakian Siang Bolong di Kawah Ijen

Usai libur lebaran tahun lalu, aku berkesempatan untuk menjelajahi keindahan Kawah Ijen. Perjalanan ini berawal dari rumah mertua di pusat kota Bondowoso. Sekitar pukul 6 pagi, aku dan suami mulai membelah jalanan menuju arah Paltuding. Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam, tapi sungguh tidak terasa membosankan karena pemandangan menuju Ijen dari arah Bondowoso itu luar biasa indah. Sepanjang jalan, mata dimanjakan oleh lanskap kaldera Ijen purba yang megah.

​Sesampainya di daerah Sempol, kami memutuskan berhenti dulu untuk sarapan menyantap hidangan hangat sebelum melanjutkan perjalanan ke Paltuding.

​Sebenarnya agak aneh aku berangkat jam segini. Biasanya orang-orang berbondong-bondong ke Ijen sejak dini hari demi mengejar fenomena blue fire. Tapi karena ini pengalaman pertama bagiku, ditambah kondisi tubuh yang baru saja sembuh dari sakit, aku memilih untuk santai saja mendaki saat langit sudah terang benderang.

​Sekitar jam 10 pagi, aku dan suami mulai menanjak ke arah Kawah Ijen setelah selesai membayar tiket masuk dan menunjukkan surat keterangan sehat dari puskesmas yang sudah aku urus satu hari sebelumnya.

​Awalnya, kukira Ijen itu mudah. Ternyata sulit sekali! Jalur menanjak yang terus menguras stamina membuat fisikku yang belum pulih 100% benar-benar diuji. Entah berapa kali rasanya ingin menyerah dan balik kanan. Tapi dengan melangkah perlahan, akhirnya kami sampai di atas, hampir 4 jam perjalanan!

​Waktu sudah menunjukkan sekitar jam 2 siang dan suasana di puncak sudah terlalu siang. Bahkan sudah tidak ada pengunjung lain sama sekali, selain beberapa penambang belerang yang masih setia bekerja. Bau belerang menyengat pun sudah mulai tercium pekat tertiup angin. Karena kondisi angin dan asap belerang yang makin terasa, kami tidak bisa berada di atas lama-lama dan harus segera turun.

Setelah turun dari pendakian yang melelahkan, kami langsung menginap di Bobo Cabin. Suasana di sekitar kabin sangat tenang dan asri, dikelilingi pohon-pohon rindang dengan suhu udara malam yang makin drop dan dingin alami. Meskipun di dalam kabin ada fasilitas AC, aku sengaja tidak menyalakannya sama sekali. Tanpa AC pun, udara pegunungan di dalam ruangan sudah sangat sejuk dan dingin menusuk kulit.

​Rasanya ingin sekali langsung selonjoran, tarik selimut tebal, dan tidur nyenyak sampai pagi. Sayangnya, realita status sebagai content creator langsung menagih kewajiban. File foto dari kamera harus segera dipindahkan ke harddisk, video-video pendek harus mulai dikurasi, dan draft tulisan harus diselesaikan sebelum batas waktu tenggat menumpuk.

Layar Laptop, Udara Dingin, dan Gejala Mata Kering

Di dalam ruangan kabin yang dingin alami tanpa AC itu, aku menyalakan tablet dan mulai bekerja. Di sinilah rasa tidak nyaman itu perlahan mulai terasa. 

​Fokus memilah foto dengan detail warna yang presisi serta memotong klip video membutuhkan tingkat konsentrasi tinggi. Tanpa aku sadari, saat menatap layar monitor berjam-jam di tengah udara dingin, frekuensi berkedipku berkurang drastis. Mata dipaksa bekerja terus-menerus tanpa pelumas alami yang cukup.

Perlahan tapi pasti, mataku mulai mengirimkan “sinyal bahaya”. Gejala mata kering yang selama ini sering aku sepelekan mendadak datang mengeroyok secara bersamaan:

  • ​Sensasi Berpasir yang Mengganjal: Kelopak mata terasa berat, dan setiap kali berkedip, rasanya seperti ada butiran debu halus atau kerikil kecil yang terselip di dalam pelupuk mata.
  • ​Perih, Panas, dan Memerah: Permukaan mata mulai terasa memanas dan perih, meninggalkan rona merah akibat iritasi dan penguapan air mata yang terjadi terlalu cepat.
  • ​Mata Sepet dan Cepat Lelah: Menatap layar laptop yang tadinya biasa saja, tiba-tiba bikin mata terasa sangat sepet dan pegal, seolah menuntut untuk segera dipejamkan.
  • ​Pandangan Kabur yang Datang Pergi: Beberapa kali saat membaca baris kalimat di artikel, tulisan tampak mengabur dan berkabut. Anehnya, penglihatan baru kembali jernih setelah aku memaksa berkedip berkali-kali.
  • ​Mata Justru Berair Berlebihan: Ini yang sering bikin terkecoh. Mataku justru mengeluarkan air mata encer secara terus-menerus. Bukannya bikin lembap, ini sebenarnya respons refleks tubuh karena permukaan mata yang terlalu kering dan teriritasi. refleks, tetapi tidak efektif melumasi.

MataSePeLeJanganSepelein

Dulu, aku sering mengabaikan gejala-gejala mata kering tersebut. Aku pikir itu cuma rasa lelah biasa yang bakal hilang sendiri setelah dibawa tidur. Padahal, itu adalah sinyal peringatan mendesak bahwa lapisan air mata kita sedang terganggu dan butuh pertolongan segera.

Pada kasusku di Ijen malam itu, ada kombinasi pemicu yang sempurna:

  • ​Faktor Lingkungan Outdoor: Paparan asap belerang yang menyengat serta debu di jalur pendakian saat siang hari.
  • ​Suhu Udara Cold/Dingin: Udara pegunungan yang sangat dingin secara alami menyedot kelembapan udara di dalam kabin.
  • ​Intensitas Screen Time: Menatap layar laptop dan ponsel berjam-jam untuk mengedit konten tanpa jeda istirahat yang cukup.

Solusi Praktis Pekerja Digital & Traveler

Beruntung, dalam setiap perjalanan, aku selalu membawa pouch khusus untuk obat-obatan pribadi dan P3K.Di antaranya, selalu ada satu botol kecil yang menjadi penyelamat andalanku: INSTO DRY EYES.

Ketika gejala ganjal dan sepet di mata makin mengganggu fokus mengedit malam itu, aku mengambil botol tersebut dari tas. Cukup diteteskan obat tetes mata andalan sebanyak 1 hingga 2 tetes pada masing-masing mata, lalu memejamkan mata sejenak selama sepuluh detik.

​Efeknya terasa seketika. Sensasinya sangat lembut, adem, dan tidak perih sama sekali. Rasa ganjal berpasir yang mengganggu perlahan memudar, menggantikannya dengan rasa segar dan lembap yang lega. Penglihatan yang sempat buram kembali jernih, sehingga aku bisa menyelesaikan sisa pekerjaan mengedit video dan menulis artikel malam itu dengan tenang tanpa rasa tersiksa.

​Sebagai traveler yang mobilitasnya seringkali tinggi dan sering berhadapan dengan cuaca ekstrem, membawa #InstoDryEyes adalah sebuah kepastian. Botolnya yang kokoh dan mungil membuat produk ini aman diselipkan di dalam tas kamera, pouch peralatan, bahkan di saku jaket pendakian.

Tips Sederhana Mengatasi dan Mencegah Mata Kering

​Belajar dari pengalaman di Ijen dan aktivitas harian sebagai kreator digital, berikut beberapa tips praktis yang selalu aku terapkan untuk menjaga kesehatan mata agar terhindar dari mata kering:

1. Terapkan Aturan 20-20-20

Setiap 20 menit menatap layar laptop atau ponsel, alihkan pandangan untuk melihat objek sejauh 20 kaki (sekitar 6 meter) selama minimal 20 detik. Ini membantu mengistirahatkan otot mata.

2. Kedipkan Mata Secara Sadar

Saat sangat fokus bekerja, kita sering lupa berkedip. Usahakan untuk rutin berkedip agar lapisan air mata tersebar merata di permukaan mata.

​3. Atur Pencahayaan dan Jarak Layar

Pastikan pencahayaan ruangan cukup dan atur jarak mata ke monitor sekitar 50–70 cm dengan posisi layar sedikit lebih rendah dari mata.

4. Hindari Hembusan Angin Langsung

Hindari terkena hembusan angin kencang secara langsung saat outdoor atau berada di area yang udaranya terlalu kering.

5. Selalu Sediakan Tetes Mata Khusus Mata Kering

Jangan tunggu sampai mata terasa perih parah. Selalu siapkan tetes mata pelumas khusus mata kering di tas untuk pertolongan cepat kapan saja.

Menjaga Aset Utama Seorang Kreator

Pengalaman perjalanan ke Kawah Ijen kali ini memberikan catatan tebal bagiku. Sebagai travel blogger dan kreator konten digital, mata adalah modal utama untuk menangkap keindahan dunia, mengapresiasi setiap momen perjalanan, dan merangkainya menjadi cerita visual maupun tulisan yang menginspirasi.

​Merawat kesehatan mata bukan lagi sekadar pilihan jika ada waktu luang, melainkan bentuk investasi dan tanggung jawab atas pekerjaan yang kita cintai. Keindahan destinasi wisata se-eksotis apa pun tidak akan bisa kita nikmati secara maksimal jika mata kita sendiri sedang bermasalah dan tersiksa oleh rasa tidak nyaman.

Mulai sekarang, yuk lebih peka mendengarkan sinyal dari tubuh kita sendiri. Ketika mata mulai terasa sepet, perih, atau ganjal akibat Mata Kering, Mata Kering Jangan Disepelein! Jangan pernah menundanya apalagi menganggapnya cuma masalah sepele. Istirahatkan matamu dari layar secara berkala, cukupi kebutuhan cairan tubuh, dan pastikan kamu selalu siap sedia perlindungan terpercaya di dalam tasmu agar perjalanan dan karyamu tetap lancar tanpa hambatan #BebasMataKering!

About Author

Dian Ravi. Muslimah travel blogger Indonesia. Jakarta. Part time blogger, full time day dreamer. Pink addict, but also love toska. See, even I cannot decide what's my favorite color is.Mau bikin bahagia, cukup ajak jalan dan foto-foto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *