Semakin Nyaman, Terjangkau, dan Instagramable Museum Fatahillah Setelah Renovasi

bismillahirrahmanirrahim,

museum fatahilah jakarta

Libur lebaran sudah habis. Gue kembali ke ibukota dan masih merasa butuh piknik. Ah, kapan sih otak gue enggak diisi dengan hasrat butuh piknik? Sepertinya gue menderita travsessed, sebuah obsesi akan traveling, dimana gue terus menerus memikirkan rencana traveling atau pengalaman traveling.

Di tengah kegelisahan ingin jalan-jalan, gue kembali menggalau. Gue harus menerima kenyataan, enggak punya tabungan buat liburan. I need a cheap picnic. Beruntung ibukota ini juga menawarkan banyak tempat wisata murah meriah. Cukup bermodalkan e-money untuk naik Trans Jakarta, gue pun akhirnya memutuskan untuk ke kawasan Kota Tua.

Sebenarnya tujuan gue ke Kota Tua adalah demi mengunjungi Semasa Cafe yang mau tutup. Gue enggak rela mereka tutup sementara gue belum punya stock foto yang banyak di Gedung Olveh. Tapi karena gue datang dari siang, sepertinya enggak ada salahnya kalau gue mengunjungi dulu Museum Fatahillah. Semenjak direnovasi di 2017 lalu, gue belum pernah masuk lagi ke Museum Fatahillah. Penasaran dong dengan wajah baru bangunan balai kota Batavia tempo dulu.

Beruntung gue ditemani Nadus, bloger jomblo yang sedang banyak waktu luang saat itu. Paling enggak artinya gue punya personal fotografer. Jadi sudah siapkah elo mengetahui bagaimana Museum Fatahillah setelah renovasi? Apa saja yang berubah? Silakan lanjutkan membaca tulisan gue ini.

Wajah Baru Museum Fatahillah

Hal pertama yang paling terlihat berbeda dari Museum Fatahillah ini adalah pintu masuknya. Kalau dulu pintu masuk ke museum yang juga dikenal dengan nama Museum Sejarah Jakarta ini menghadap pelataran alun-alun, kini pintu masuk museum berada di samping, di depan Cafe Historia, atau sejalan dari arah Bank Mandiri.

Tak perlu bingung. Ada papan petunjuk yang siap menuntun langkah elo menuju pintu masuk museum. Dan bersiaplah, setibanya elo di pintu museum, hawa sejuk dari air conditioner akan menyambut kedatangan elo. Iya, sekarang museum ini jadi sejuk berkat adanya pendingin ruangan di beberapa sudut.

museum fatahilah

Gue dibuat takjub ketika masuk ke Ruang Mural Harjadi setelah gue menitipkan tas di loker dan membeli tiket masuk. Lukisan kehidupan Batavia di tahun 1880 – 1920 karya Harjadi Sumodidjojo terpampang keren di dinding, seolah memanggil gue untuk diajak foto bareng. Kalau elo langsung teringat pada foto profil Travel Galau, ingatan elo enggak salah. Foto profil gue itu memang di ambil di sini, ini juga kenapa gue memilih menulis soal Museum Fatahilah sebagai tulisan travel pertama.

Sebenarnya mural ini sudah ada sejak dulu loh. Hanya saja ruang mural ini dulu agak tersembunyi. Tidak seperti sekarang yang akan dengan mudahnya langsung ditemukan. Mural ini dibuat berdasarkan permintaan Ali Sadikin, sekitar 1974, yang saat itu sedang menjabat menjadi Gubernur DKI Jakarta. Lukisan ini tampak masih belum selesai, karena dibagian atasnya masih berupa sketsa. Hasil tanya sana sini, rupanya dinding yang lembab menjadi alasan kenapa lukisan ini tidak bisa terselesaikan.

museum fatahilah

Ruangan-ruangan lainnya tidak banyak berubah. Selain kini semakin banyak papan penanda informasi. Untuk pindah dari ruangan yang satu keruangan yang lain elo cukup mengikuti papan petunjuk saja. Lewat museum yang memiliki dua lantai ini elo banyak tahu soal sejarah Jakarta, dari jaman Tarumanegara, Kerajaan Sunda, kedatangan VOC, hingga akhirnya menjadi Batavia.

Jika sedang berkunjung ke Museum Sejarah Jakarta ini jangan lupa untuk mengunjungi penjara bawah tanah yang letaknya di bawah museum. Harus gue akui, tempat ini terasa mengerikan, mengingat cukup banyak yang meninggal di tempat ini dulu.

museum fatahilah

Bagian lain yang tak boleh dilewatkan adalah menikmati taman di belakang gedung ini. Cari sudut-sudut cantik untuk bikin foto yang banyak. Sayang, gue mendadak kehilangan semangat untuk foto-foto. Selain karena faktor agak ramai, perut gue dan Nadus pun sudah berteriak minta diajak makan.

Jadi, daripada gue nanti foto-foto gue berakhir blur karena sang juru foto kelaparan, lebih baik gue pamit dari museum ini dan mencari tempat makan.

Informasi Harga Tiket Museum Fatahillah

Tidak perlu merogoh dompet terlalu mahal untuk bisa menikmati wisata Museum Fatahillah ini. Elo cukup beli tiket seharaga  Rp 5.000 untuk  dewasa, Rp 3.000 kalau elo mahasiswa, dan Rp 2.000 bagi pelajar dan anak-anak.

Jam Operasional Museum Fatahillah

Museum ini sekarang buka dari jam: 08.00 – 17.00 WIB. Setahu gue ini juga salah satu bentuk perubahan museum-museum yang ada di Jakarta, kalau sebelumnya buka hanya sampai jam 15.00 kini semakin sore. Seolah tahu kalau sekarang itu museum semakin ramai.

Sama seperti museum lainnya di Jakarta, Museum Sejarah Jakarta ini buka setiap hari kecuali hari Senin dan hari libur nasional. Jadi jangan coba-coba deh elo berpikir ingin main ke museum di hari Senin.

Rute Menuju Museum Fatahillah

Kawasan  Kota Tua ini menurut aku wilayah yang paling mudah diakses. Elo bisa ke tempat ini naik KRL ataupun naik Trans Jakarta dan tinggal jalan kaki menuju kawasan Kota Tua.

Baik naik KRL maupun Trans Jakarta, elo cuma perlu berhenti di Stasiun/Halte Kota. Menariknya, dua tempat ini saling terhubung di kolong jalan. Pertama kali gue naik TJ dan turun di Kota, gue terkagum-kagum sendiri melihat kok keren ya tempatnya.

Soal fasilitas seperti toilet umum, mushola dan ATM elo enggak perlu khawatir. Di kawasan Kota Tua ini semua tersedia. Elo hanya perlu berhati-hati saja saat suasana ramai, jangan sampai liburan runyam hanya karena segelintir ulah manusia jahat.

So, buat warga ibukota yang merasa butuh liburan tapi enggak bisa keluar kota, feels free pergi main ke Kota Tua mengunjungi Museum Fatahillah. Selain museum ini, masih ada museum-museum lainnya di kawasan Kota Tua, seperti Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Bank Indonesia, Museum Bank Mandiri, serta Museum Bahari.

museum fatahilah

Thanks for reading, guys.

X.O.X.O

Travel Galau

About The Author


Dian

Travel Galau, muslimah blogger Indonesia. Jakarta. Tukang main, suka moto dan dipoto, pecinta kopi dan kain nusantara.

2 Comments

  1. jadi pengen ke sana loh mbak, lukisannya bagus mbak…. dan banyak ilmu yang diperoleh. apalagi tutupnya makin lama, makin asyik berlama-lama ke museum itu.

Leave a Comment