Yang Elo Perlu Tahu: Ini Dia 7 Alasan Penyebab Galau si Travel Galau

86 / 100

bismillahirrahmanirrahim,

“Travel kok galau? Travel tuh harusnya bikin senang. Aneh banget sih pakai nama Travel Galau.”

Entah sudah berapa banyak yang berkomentar seperti itu semenjak Travel Galau lahir 3 tahun lalu. Biasanya gue malas sih menanggapi komentar-komentar itu. Rasanya ingin bilang “Suka-suka gue dong mau galau atau enggak. I have my own reason.” Tapi untung gue punya suami yang super brilliant dan bijaksana. Mau tahu enggak komentar suami gue apa?

“Daripada kamu grundel gitu, mending kamu bikin tulisan aja penyebab galau kamu sebelum mulai traveling. Kan lumayan jadi tambahan konten buat kamu, kalau ada yang nanya tinggal kasih link tulisan, pembaca blog kamu jadi nambah.” Brilliant banget bukan komentarnya? Wakakakaka…

So here I am. Dalam rangka menyemarakan hari bloger nasional yang pas banget jatuh hari ini, 27 Oktober 2021, gue mau menuliskan penyebab galau gue setiap memikirkan soal traveling. Eh, ada kaitannya enggak sih sama hari bloger nasional? Sepertinya sih enggak, tapi anggap aja biar berkaitan ya, biar ada postingan di hari ini hehehe….

7 Alasan Penyebab Galau Travel Galau

Dan ini dia, jawaban-jawaban untuk pertanyaan kalian seputar kenapa sih gue traveling tapi galau, bukannya traveling seharusnya bikin happy.

Saldo aman enggak nih?

Budget jelas jadi penyebab galau nomor satu gue. Gue bukan orang yang pintar menabung dan mengatur keuangan. Ini salah satu kelemahan gue. Biasanya gue memang bisa lebih hemat ketika sudah mulai merencanakan traveling. Tapi gue enggak pernah punya pos-pos keuangan, semua tumplek jadi satu bersama uang rumah tangga. Kebayang bukan berantakannya seperti apa?

I know gue belajar untuk mengelola keuangan. Udah bolak-balik gue janji ke diri sendiri, tapi masih belum berhasil melalukannya. No wonder, setiap kali merencanakan perjalanan, gue bisa bolak-balik melototin saldo rekening untuk memastikan beneran cukup enggak ini saldonya.

Suami gue bisa cuti enggak ya?

Sebagai istri dari karyawan biasa, setiap kali mau liburan gue harus memikirkan soal ijin cuti suami. Sebenarnya kalau jatah cuti sih insya Allah masih mencukupi. Tinggal pintar-pintar gue aja mengatur hari liburnya. Cuma kadang kendalanya bukan di jumlah hari cutinya, tapi justru soal memungkinkan enggak di tanggal-tanggal itu dia bisa cuti, sibuk banget atau sibuk biasa aja?

Fisik kami mampu enggak buat roadtrip?

Percaya enggak, setiap rencana liburan mulai bermunculan di kepala, saat itu juga gue terus memantau kondisi kesehatan suami.  Perjalanan gue sekarang ini lebih sering berupa roadtrip. Gue jelas enggak bisa nyetir (padahal yang ngajarin suami nyetir gue sih waktu pacaran). Makanya buat gue penting banget suami berada di kondisi 100 persen sehat. Kalau dia sakit, otomatis enggak bisa melanjutkan perjalanan soalnya.

Solusinya, gue selalu rajin konsumsi multivitamin buat gue dan suami. Biar badan kami selalu prima, enggak gampang sakit. Alasan gue memilih multivitamin biar praktis, karena umumnya sudah mengandung beragam kandungan vitamin dan mineral yang diperlukan

Fisik yang gue pikirkan bukan sebatas pada kesehatan aja, tapi juga kemampuan perjalanan. Maklum, usia gue sudah mendekati kepala 4 (suami jelas di atas gue), plus jarang berolahraga, naik turun tangga kayak ke Curug Cimahi dan Curug Cigangsa itu jadi ujian terberat buat tulang-tulang kami. Makanya sekarang gue mulai rutin buat konsumsi Vitamin D, biar tulang-tulang kami sehat dan enggak menjerit lagi menghadapi ratusan tangga.

Itinerary gue udah pas belum nih?

Kata adik gue, traveling sama gue itu perfeksionis, cuma gara-gara gue selalu rapih dalam membuat itinerary. Gue memang senang sih bikin itinerary (dan kayanya ini turunan dari mama). Buat gue ketika pergi enggak cuma berdua sama suami, mau enggak mau gue merasa harus bertanggung jawab membuat semua rombongan gue bahagia, wishlist mereka terwujudkan, jadi ya harus terlihat sempurna.

Padahal dalam perjalannya gue juga tahu pasti akan ada yang melenceng dari itinerary dan itu enggak akan jadi masalah. Tapi tetap aja, sebisa mungkin gue akan membuat detail rencana perjalanannya.

Kalau cuma pergi berdua suami juga tetap memikirkan tempat mana aja yang ingin gue tuju. Dan seringnya agak berbeda dengan kesukaan suami. Gue masih senang dengan tempat-tempat wisata instagramable. Sementara suami gue kayaknya sudah jenuh dengan lokasi seperti itu. Ini juga salah satu penyebab galau gue. Artinya gue harus bisa membujuk rayu suami biar dia mau menemani gue ke tempat wisata instagramable.

OOTD apa yang akan gue kenakan?

Setelah membuat rencana perjalanan, gue biasanya akan menyusun rencana pakaian yang akan dikenakan dimana aja selama liburan. Jangan salah, baju tidur kece biar bisa difoto ala-ala “I wake up like this” aja gue rencanakan lho. Meski biasanya kalau packing tetap last minute satu hari sebelum berangkat. Tapi di dalam kepala gue, gue sudah tahu mau bawa apa aja, ada di lemari mana.

When is the best time to go there?

Gue itu kayak orang enggak tahu diri ya. Sudahlah pusing mikirin cuti suami, masih juga memikirkan kapan sih waktu yang tepat buat liburan ke tempat yang gue inginkan. Biasanya ini kendala di cuaca. Sebisa mungkin gue menghindari liburan di musim hujan, terutama kalau ke pantai. Hal yang paling rugi menurut gue adalah ketika liburan dan terjebak cuma bisa berdiam di hotel aja. Meski gara-gara pandemi ini gue belajar pasrah sih kalau terpaksa cuma diam di hotel aja. Seperti ketika menginap di Seavibes kemarin, pasrah aja hujan juga. Soalnya kebelet ingin liburan.

Aman enggak liburan ke sana?

Last but not least, pandemi menambah alasan penyebab galau gue. Memangnya beneran sudah boleh ya pergi-pergi? Aman enggak kalau liburan ke sana? Ramai enggak? Tahun ini gue mulai memberanikan diri untuk pergi-pergi lagi, liburan tipis-tipis. Prinsip gue akhirnya  yang penting gue tetap menerapkan protokol kesehatan. Begitu tempatnya ramai, gue balik balik badan aja.

Kejadian ini terjadi pas gue ke Bandung bulan Mei kemarin. Sejumlah café inceran batal gue kunjungi karena selalu terlihat ramai. Cuma Warung Kopi Purnama aja akhirnya yang gue rasa cukup ketat menerapkan protokol kesehatan dan bikin gue berani untuk masuk dan menikmati sarapan.

Itu tuh, 7 penyebab galau gue setiap mulai memikirkan traveling. Aslinya sih pasti masih banyak penyebab galau gue, cuma yang selalu gue pikirkan ya itu. Menurut gue pribadi, galau enggak salah kok. Karena seperti tagline gue: “Ribuan langkah dimulai dari kegalauan pertama.” Gue selalu yakin, berkat kegalauan-kegalauan ini alhamdulillah gue jadi hampir selalu menikmati perjalanan gue dengan tenang. Meski enggak setiap perjalanan berjalan mulus. Tapi bikin gue jadi terus semangat terus berusaha menjadi Travel Blogger Indonesia. Selamat Hari Bloger Nasional! Doain gue bisa terus rajin menulis, masih banyak banget perjalanan yang belum gue tulis.

x.o.x.o

travel galau

9 thoughts on “Yang Elo Perlu Tahu: Ini Dia 7 Alasan Penyebab Galau si Travel Galau

  1. Bhuahaha traveling kadang bikin galau, mbak. Belum kalau pingin ke LN. Duit ada, bahasanya gak bisa. Kendala bahasa ini yang sering bikin galau. Padahal banyak traveler luar Indonesia yang gak bisa bahaaa inggris lancar-lancar aja jalan ke sana ke mari.

    Justru kegalauan begini yang bikin aaya penasaran berangkat😁

    1. wakakakakakaka iya tuh, blom sampai ke kendala soal bahasa. berasa pede udah bisa bahasa inggris juga, krn negara tujuannya bukan yg bahasa inggris tetep aja bikin galau. siap ga nanti pakai bahasa tubuh di sana?

  2. Aku juga dulu sering banget galau trus traveling sendirian, emang lebih asyik jalan2 sendirian sih.

    Apalagi nanti pas di jalan ketemu ama orang baru, kenalan, jadi nambah teman. Seruu..

  3. Saldo harus aman kalau mau traveling, pulang traveling gak minus ya mbak hehehe. Kalau cewe banyak persiapannya ya mau traveling, kadang aku aja mikir sambil diem bawa baju apa ya dll hehehe.

  4. Kalau aku còndong ke saldo nih kak hahaha pengen banget gitu traveling sama anak-anak tapi pas ada uang lebih suka gatel malah dimasukin ke RDPU tapi insya Allah sih kalau memang ada uang lebihhhhh banget pengen traveling sama mereka minimal glamping di luar kota lah hihi.

  5. Dari semua poin di atas, yg bikin galau bgt itu ngepasin jadwal suami & anak2. Dulu suami yg sering gak pas. Setelah anak2 besar, gantian mereka yg sibuk terus. Kalau roadtrip aku kuat sih gantian nyetir sama suami. Paling jauh nyetir Palembang-Jambi. Tapi kalau diajak hiking bener2 ogah, gak kuat jalan naik2.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *