Gagal Menginap di Jawa Jiwa G-Land, Penginapan Enggak Profesional

90 / 100

bismillahirrahmanirrahim,

What’s your worst travel experience ever? Waktu aku membuat artikel tentang 5 kendala saat traveling, gak pernah terpikirkan kalau list itu akan bertambah. Apalagi membayangkan kalau ternyata my worst travel experience ever sampai saat ini  adalah gak dapat kamar padahal sudah booking jauh-jauh hari. KOK BISA??

Ternyata bisa dong! 

My worst travel experience  dimulai gara-gara memutuskan untuk menginap di Jawa Jiwa G-Land. Sumpah, rasanya mau menyesal karena memilih penginapan glamping yang harus aku akui, instagramable (kalau gak instagramable kan aku gak akan memutuskan untuk menginap di sana juga). But lesson learn, percuma penginapan terlihat menarik kalau ternyata managementnya WORST!

Gagal Menginap di Jawa Jiwa G-Land, Penginapan Enggak Profesional

pengalaman buruk di jawa jiwa g-land

Jujur, aku sudah tertarik sama Jawa Jiwa G-Land ini dari masa-masa pandemi. Lupa persisnya gara-gara lihat di instagram siapanya sih. Makanya ketika rencana libur ke Banyuwangi usai lebaran kemarin di acc, aku langsung buat itinerary menginap di satu malam  di Jawa Jiwa G-Land jauh-jauh hari.

Rencananya aku akan  menginap di Ketapang Indah Hotel 2 malam (9-11 Mei 2022), kemudian lanjut di Jawa Jiwa G-Land 1 malam (11 Mei 2022). Untuk persiapan itu aku sudah booking kedua penginapannya sejak 14 April 2022 via Traveloka. Cukup lama kan ya persiapan aku?

Untuk menginap Ketapang Indah Hotel aku langsung membayarnya. Sementara di Jawa Jiwa G-Land hanya ada pilihan bayar di tempat. Sempat terlintas perasaan gak enak karena pilihan ini, tapi aku coba menepiskannya. Naif banget aku berpikir kalau gak mungkin mereka akan menjual kamar yang sudah aku booking. Toh, memang gak ada pilihan bayar langsungnya.

Siang itu aku checkout dari Ketapang Indah Hotel dengan super excited. Di dalam kepala aku sudah membuat list aneka rencana yang akan aku lakukan di Taman Nasional Alas Purwo sekalian membuat konten review Jawa Jiwa G-Land. Aku bahkan sudah menyiapkan outfit tutu buat menikmati sunset di Pantai Plengkung. Well, that’s me. Semuanya sudah well prepared, as always

Perjalanan dari Ketapang menuju Taman Nasional Alas Purwo ternyata cukup memakan waktu lama juga. Ditambah berhenti shalat dan makan siang, aku baru sampai di gerbang TN Alas Purwo  menjelang jam 3. Sementara untuk lanjut di ke Jawa Jiwa G-Land masih cukup jauh. “Ikuti jalannya aja terus,” begitu tutur petugas di gerbang depan.

Aku amazed, jalanan di TN Alas Purwo ini bagus banget. Bukan cuma di taman nasionalnya aja sih, bahkan sepanjang perjalanan ke TN Alas Purwo ini mulus. Kendaraan umumnya cuma bisa sampai di Pantai Pancur aja. Hanya yang menginap di sekitar Pantai Plengkung yang bisa lanjut terus. 

Ketika petugas di Pantai Pancur 2 kali memastikan apakah aku sudah booking sebelumnya di Jawa Jiwa G-Land sebelumnya, perasaan aku sempet gak enak sih. Apakah ini sebuah pertanda, atau karena memang aku aja yang gampang kepikiran. Entahlah.

Dari Pantai Pancur jalanan baru deh kurang mulus. Mengingatkan aku sama Taman Nasional Baluran beberapa tahun lalu. Tapi kami masih menikmati sepanjang jalan sih. Beberapa kali kendaraan kami berpapasan dengan aneka satwa. Asik.

Sampai di Jawa Jiwa G-Land. Mas Metra memarkirkan kendaraan, aku pun turun buat check in. Sempat celingak-celinguk, bingung kok gak ada lobi. Tanya ke orang, disuruh langsung ke restorannya aja di bagian paling belakang wilayah ini. Baiklah.

Sampai di depan restorannya, kebetulan aku papasan sama karyawan Jawa Jiwa G-Land. Aku pun langsung bilang kalau mau check in. Saat itu sudah sekitar pukul 15.30. Di kepalaku rasanya ingin cepat masuk kamar, shalat ashar, dan siap-siap ke pantai. But wait, ternyata bukan itu yang akan terjadi.

Karyawannya justru bingung ketika aku menunjukkan bukti bookingan aku. Dia meminta aku menunggu dulu, dan mencari temannya yang katanya mengurus soal check in.

Enggak lama, karyawan yang dimaksud menghampiri aku. Posisi aku masih berdiri di depan pintu restoran. Dia pun bertanya: “Kakaknya sudah booking?” Aku menjawab sudah, melalui Traveloka, sambil menunjukkan kembali email konfirmasi dari Traveloka. “Sudah menghubungi owner kami sebelumnya, Kak?” lanjutnya.

Aku langsung bingung. Memangnya ada ketentuan untuk menghubungi owner sebelumnya? Apa ada instruksi yang ke skip sama aku? Belum sempat memastikan  kembali email reservasi, karyawan yang tadi pun  melanjutkan kalimatnya “Jadi gini kak, untuk kamar glamping semua udah penuh. Jadi kakak gak bisa menginap di sini.”

Sumpah mau marah gak sih rasanya? In the middle of no where, sudah sore pula, dibilang gak bisa menginap. Padahal aku sudah reservasi jauh-jauh hari. Reflek aku pun ceplos “Ya kali mas, saya udah jauh-jauh ke sini, gak ada konformasi soal pembatalan  kok tau-tau dibilang gak ada kamar.”

Singkat cerita, aku diminta tunggu dulu. Katanya kebetulan ownernya lagi ada di sini, tapi lagi di Pantai Pancur. Mereka akan coba agar aku bisa ngomong langsung sama  ownernya. Sambil menunggu, aku baru dipersilakan duduk dulu di dalam restorannya. Karena sudah menjelang jam 4, aku minta tempat untuk shalat ashar dulu, sambil manggil Mas Metra yang masih menunggu di mobil. 

Untuk shalat ashar,  kami dipersilakan menggunakan kamar standar. Waktu aku lagi wudhu, rupanya salah satu karyawan itu sempat menghampiri Mas Metra dan bilang kalau ini salah kami karena gak membayar terlebih dahulu. Dan kalau mau tetap menginap ya cuma ada kamar tipe standar ini.

Gimana gak emosi aku pas dikasih tahu Mas Metra soal itu coba? Karena aku bukannya gak mau membayar terlebih dahulu. Tapi memang gak ada pilihan itu dari Traveloka. Lagian kalau memang kamar sudah dijual kembali, bukankah harusnya ada konfirmasi pembatalan dari Traveloka ya? 

Dan soal pilihan menginap di kamar standar, jujur aku sih ilfeel. Tujuan aku dari awal  ke Jawa Jiwa G-Land ya karena mau merasakan glampingnya. Terus harus menginap di  kamar standar? Rasanya aku mending pulang ke Bondowoso aja. Selera liburanku langsung hilang dalam sekejap.

Aku masih kasih waktu buat ketemu ownernya. Rasanya sih aku pengen banget si owner itu minta maaf  secara langsung sama aku.  Aku tunggu sampai pukul 16.30. Gak mau terlalu sore juga pulangnya,  ngeri kalau gelap di Alas Purwo. Tapi sampai batas waktu itu gak ada inisiatif dari ownernya untuk minta maaf sama aku. Sementara karyawannya sendiri lebih dari 2 kali bertanya: “Kakaknya gak konfirmasi ke owner ya waktu booking?” Sumpah aku sebel banget!!!

Buruk banget management Jawa Jiwa G-Land ini menurut aku sih. 

Permintaan Maaf dari Traveloka

Akhirnya aku memutuskan  untuk langsung pulang ke Bondowoso aja. Bener-bener jelek banget mood aku. Handphone langsung kembali siaga mengarahkan perjalanan. 

Baru saat berhenti untuk makan malam di sekitar Gumitir,  aku sempat bikin Insta Story tentang rasa kecewa sama Jawa Jiwa G-Land dan Traveloka. Lagi-lagi aku naif, berharap ada permintaan maaf dari Jawa Jiwa G-Land. Hanya Traveloka yang langsung merespon story aku itu. Aku pun langsung bikin aduan.

Pihak Traveloka sempat menelepon aku, memastikan apakah aku dapat penginapan malam itu. Rasanya pengen banget bilang, aku tidur di jalan,  karena sebal, tapi aku jawab kalau aku memilih pulang ke rumah mertua (masih sopan ya aku). Perjalanan dari Alas Purwo ke rumah ibu di Bondowoso kan butuh waktu sekitar 4 jam perjalanan. 

Besok paginya aku mendapat email dari Traveloka kalau mereka menawarkan reimburse untuk  penginapan tadi malam (tanggal yang sama dengan reservasi aku di Jawa Jiwa G-Land). Tapi karena  aku memang gak menginap di hotel manapun ya sudah, hangus. Aku anggap case closed  sama Traveloka ini. Aku berterima kasih karena mereka masih  berusaha bertanggung jawab. Sementara Jawa Jiwa G-Land gak ada permintaan maaf.

Gak habis pikir sih, management hotel kok sesombong itu. Aku sendiri mantan orang perhotelan. Bahkan sejak kecil aku dicekokin  soal bagaimana cara melayani tamu hotel oleh almarhum kakekku. Dari kecil aku terbiasa melihat bagaimana almarhum Apa menyapa tamu-tamu hotel, memastikan karyawan-karyawan hotel berkerja dengan baik, sopan, dan ramah. 

Ah, Dian….  Kamu terlalu naif. Gak semua owner hotel itu kayak almarhum Apa. Yang sombong kaya owner Jawa Jiwa G-Land tuh buktinya! Pelayanan buruk di Jawa Jiwa G-Land.

Pelayanan Buruk di Jawa Jiwa G-Land Lagi

Efek sebel banget sama pelayanan buruk yang aku alami di Jawa Jiwa G-Land ini, aku sempat berkicau di Twitter. Lumayan menenangkan jiwa karena gak sedikit yang merasa posisi aku gak salah kok. Bahkan ternyata aku bukan korban pertama pelayan buruk Jawa Jiwa G-Land. Sudah ada beberapa review yang mirip sama aku, reservasi via Traveloka-nya dibatalkan.

Kasus mereka masih lebih baik sih. Mereka dikasih kabar terlebih dahulu. Gak kayak aku DITOLAK di tempat. Tapi tetap aja pasti bikin sebel. Salah aku sih gak cek review terlebih dahulu. 

Sempat mau melupakan pengalaman buruk di Jawa Jiwa G-Land ini. Tapi beberapa hari yang lalu, ada yang mention aku di Twitter. Dia mengirimkan screenshot tentang review di Jawa Jiwa G-Land yang mirip sama yang aku alami. Bedanya, dia berkomunikasi sama ownernya. And you know what? Tetap aja dikasih nada tinggi bilang gak ada kamar, meski sudah booking jauh-jauh hari. Gila, gak sopan banget sih!

Tapi aku jadi bertanya-tanya, Traveloka kok ya tetap bekerjasama dengan Jawa Jiwa G-Land sih? Paling gak, aku sudah nemu 3 kasus yang dibatalkan reservasinya. Secara gak langsung kan juga mencoreng Traveloka-nya.

So, buat teman-teman Travel Galau yang mungkin ada rencana berlibur ke Banyuwangi dan mau menginap di Jawa Jiwa G-Land, pikir ulang  deh. Masih banyak penginapan yang jauh lebih cantik, nyaman, dan lebih ramah pelayanannya daripada Jawa Jiwa G-Land. 

Aku sih kapok gak mau lagi mencoba menginap di Jawa Jiwa G-Land.

x.o.x.o

travel galau

2 thoughts on “Gagal Menginap di Jawa Jiwa G-Land, Penginapan Enggak Profesional

  1. Duh! Suram amat rencana yang disusun jadi berantakan begini. Mungkin Traveloka harus memutuskan kerjasama supaya nggak terulang/banyak korban PHP lagi..

  2. Yg beginiiii nih langsung masuk daftar blacklist ku juga mba. Thank you udah nulis komplit. aku paling benci Ama tempat penyedia jasa dan service yg buruk banget managementnya.

    Apalagi yg seenaknya cancel bookingan, hanya karena ada tamu lain yg DTG lebih dulu, atau membayar LBH mahal. Ini sama kayak case di Lombok pas moto GP. Temenku yg udah book hotel jauh2 hari, dicancel pas sampe hotel, Krn kamarny Diksh ke tamu yg mau membayar jauuuuuuh LBH tinggi.

    Buat aku Yaa, hotel secantik apapun, tapi kalo servicenya buruk dan ga sopan gini, sorry ajaaaa… Ga tertarik utk DTG dan nginep di situ. Mending cari hotel lain 🤣

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *